{"id":18211,"date":"2020-08-13T21:06:00","date_gmt":"2020-08-13T11:06:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=18211"},"modified":"2021-07-10T12:11:23","modified_gmt":"2021-07-10T02:11:23","slug":"indahnya-yogyakarta-ibu-kota-kebudayaan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/08\/13\/indahnya-yogyakarta-ibu-kota-kebudayaan-indonesia\/","title":{"rendered":"Indahnya Yogyakarta, Ibu Kota Kebudayaan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><i>Dirangkum dan ditulis oleh Patrick Moran <\/i><i>\u2013 AIYA National\u2019s Blog Editor<\/i><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><em>Diterjemahkan oleh Adolf Richardo BS &#8211; AIYA&#8217;s National Content Translator Team\u00a0<\/em><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\">Versi bahasa Inggris, klik di <a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2020\/08\/beyond-bali-the-vast-array-of-attractions-in-yogyakarta\/\">sini<\/a>\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Dari gua-gua hingga candi bersejarah, Yogyakarta menawarkan banyak pemandangan menakjubkan dan kesempatan yang luar biasa untuk menyelami budaya setempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Bagi banyak orang Australia, \u201ctraveling\u201d di Indonesia berarti pergi ke Bali. Tetapi, bagi yang ingin mencari suasana berbeda, \u201cibu kota kebudayaan\u201d Indonesia ini menawarkan alternatif yang menarik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Artikel berikut akan memberikan gambaran tentang objek wisata terbaik di Yogyakarta dan sekitarnya; dari candi-candi yang sangat menarik untuk dijelajahi hingga objek wisata alam yang sangat beragam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><b>Candi:<\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Yogyakarta dan sekitarnya adalah rumah bagi beberapa candi paling ikonik di Asia Tenggara, termasuk Candi Borobudur dan Prambanan, yang telah berusia lebih dari 1000 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Borobudur, salah satu candi paling ikonik di dunia, dibangun di masa Dinasti Syailendra, antara abad kedelapan dan kesembilan. Candi Buddha ini memiliki tiga tingkat; bagian bawah (Kamadatu), tengah (Rupadhatu), dan atas (Arupadhatu). Menurut National Geographic, setiap tingkat melambangkan tahap proses pencerahan Buddha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Candi ini terbuka dan dapat didaki oleh wisatawan dan peziarah. Di sini, para peziarah biasa berjalan kaki 5 km searah jarum jam ke puncak candi ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/Borobudur-Nothwest-view-1-scaled.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18212 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Borobudur-Nothwest-view-1-300x118.jpg\" alt=\"\" width=\"539\" height=\"212\" \/><\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400; font-size: 8pt;\">Candi Borobudur, Yogyakarta. Foto oleh Gunawan Kartapranata \/ CC BY-SA 4.0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Beberapa sejarawan beranggapan bahwa kompleks Candi Prambanan, yang dibangun tidak lama setelah Borobudur, dibangun untuk menyaingi Dinasti Syailendra. Para sejarawan tersebut berpendapat bahwa pembangunan Candi Prambanan dilakukan untuk menandai kembalinya kekuasaan Hindu di Jawa Tengah di bawah Dinasti Sanjaya. Artinya, kedua candi tersebut dapat dianggap sebagai simbol dari dua dinasti yang bersaing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Kedua candi itu hilang untuk jangka waktu yang cukup lama, terkubur dalam abu letusan gunung berapi, sebelum ditemukan kembali dan direstorasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Kompleks Candi Prambanan memiliki bentuk yang berbeda dengan candi Borobudur. Ketiga candi di kompleks candi Prambanan tidak dapat didaki. Prambanan memiliki tiga candi yang didedikasikan untuk tiga dewa Hindu; Siwa, Wisnu, dan Brahma.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Candi-candi di Yogyakarta mencerminkan kekayaan sejarah agama dan budaya di wilayah Jawa Tengah, memperkuat statusnya sebagai &#8216;ibu kota kebudayaan&#8217; Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><b>Objek Wisata Alam:<\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Meskipun Yogyakarta lebih dikenal dengan situs budaya dan sejarahnya, mereka yang mencari wisata alam tidak akan kecewa dengan Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Gua Jomblang, yang dianggap sebagai salah satu objek wisata paling unik di Yogyakarta, adalah gua sedalam 60 meter dengan tumbuhan purba yang masih tumbuh di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Gua yang terbentuk dari batu kapur ini dapat dijelajahi oleh wisatawan yang diturunkan dengan tali. Pada waktu-waktu tertentu, sinar matahari akan mengarah langsung ke dalam gua, menciptakan pemandangan yang luar biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Tempat ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang mencari keindahan alam serta sensasi petualangan yang unik di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Selain itu, seperti beberapa tempat lain di Indonesia, Yogyakarta menawarkan objek wisata vulkanik aktif.\u00a0 Gunung Merapi, gunung berapi teraktif di Indonesia, dianggap sebagai gunung suci oleh masyarakat Jawa. Pada 2010, gunung ini meletus dan menewaskan 353 orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi wisatawan yang mencari petualangan, Merapi merupakan alternatif yang menarik. Banyak perusahaan menawarkan tur dengan jip di wilayah ini, dengan sensasi perjalanan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">off-road<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menegangkan. Selain itu, wisatawan juga dapat mengunjungi beberapa objek lain di sekitar Merapi, seperti bunker yang digunakan pengungsi untuk bertahan dari letusan Merapi dan museum yang menyimpan barang-barang peninggalan korban letusan Merapi.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/WhatsApp-Image-2020-08-15-at-06.56.47.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18232 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/WhatsApp-Image-2020-08-15-at-06.56.47-300x224.jpg\" alt=\"\" width=\"565\" height=\"422\" \/><\/a><a href=\"https:\/\/en.m.wikipedia.org\/wiki\/Mount_Merapi\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 8pt;\">Gunung Merapi yang terlihat jelas dari Candi Prambanan. Foto oleh Arabsalam \/ CC.<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2020\/08\/beyond-bali-the-vast-array-of-attractions-in-yogyakarta\/\">Salah satu objek wisata alam lain yang menarik di Yogyakarta adalah Taman Nasional Kalibiru<\/a>. Dulu,\u00a0 pembakaran dan penebangan hutan secara liar membuat kawasan itu tandus. Pada 1999, masyarakat setempat memulai upaya untuk memulihkan objek wisata ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat upaya pemulihan tersebut, taman nasional ini dapat dinikmati kembali oleh wisatawan. Dengan jalur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trekking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sepanjang lebih dari 7 km, taman nasional ini menawarkan keindahan hutan dan pegunungan, serta dilengkapi dengan dek observasi bagi pengunjung yang ingin bersantai dan melemaskan kaki sambal menikmati keindahan kawasan Kalibiru atau mengabadikannya dalam foto.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Yogyakarta menawarkan kesempatan unik bagi wisatawan untuk mengenal budaya, sejarah, dan keindahan alam Indonesia. Setelah pandemi berakhir, bagi warga Australia yang ingin mengenal Indonesia lebih dekat, Yogyakarta adalah tempat yang wajib dikunjungi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\">Penyunting : Meylisa Sahan \u2013 AIYA\u2019s National Blog Editor<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dirangkum dan ditulis oleh Patrick Moran \u2013 AIYA National\u2019s Blog Editor Diterjemahkan oleh Adolf Richardo BS &#8211; AIYA&#8217;s National Content Translator Team\u00a0 Versi bahasa Inggris, klik di sini\u00a0 Dari gua-gua [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/08\/13\/indahnya-yogyakarta-ibu-kota-kebudayaan-indonesia\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-18211","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.0","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":false,"content":false,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18211","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18211"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18211\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18211"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18211"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18211"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}