{"id":18246,"date":"2020-08-21T07:56:30","date_gmt":"2020-08-20T21:56:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=18246"},"modified":"2021-07-10T12:11:24","modified_gmt":"2021-07-10T02:11:24","slug":"bukan-sekedar-lomba-begini-pentingnya-memahami-sejarah-dan-makna-lomba-17-agustus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/08\/21\/bukan-sekedar-lomba-begini-pentingnya-memahami-sejarah-dan-makna-lomba-17-agustus\/","title":{"rendered":"Bukan Sekedar Lomba, Begini Pentingnya Memahami Sejarah dan Makna Lomba 17 Agustus"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-size: 10pt;\">Versi Bahasa Inggris, klik di <a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2020\/08\/the-history-and-meaning-behindthe-games-played-in-the-celebration-of-indonesias-independence-day\/\">sini\u00a0<\/a><\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-size: 10pt;\">Dirangkum dan ditulis oleh Dinda <span style=\"font-weight: 400;\">Amalia Ichsani &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor\u00a0<\/span><\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Masih dalam suasana perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, rasanya kurang afdol jika kita merayakannya tanpa tradisi lomba 17 Agustusan yang melibatkan partisipasi rakyat Indonesia. Momen seru ini merupakan saat dimana tidak hanya anak-anak, namun remaja dan orangtua pun tak kalah semangat untuk menyemarakan perayaan ini. Beragam hadiah juga tersedia sebagai bentuk apresiasi bagi peserta yang memenangkan lomba.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Dari tahun ke tahun, berbagai inovasi lomba terus diciptakan. Namun ada beberapa lomba yang begitu lekat dengan perayaan kemerdekaan Indonesia misalnya balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, tarik tambang dan balap bakiak. Sayangnya, akibat pandemi Covid-19 saat ini banyak perlombaan yang menjadi tidak begitu meriah. Hal ini karena pemerintah Indonesia menghimbau masyarakat untuk merayakan HUT RI ke 75 dengan cara sederhana dan tetap mematuhi protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Kita semua tentu pernah mengikuti satu dari beberapa jenis lomba diatas, namun apakah kita benar-benar mengetahui sejarah dan makna dari setiap perlombaan tersebut? Nah, berikut kami siapkan informasinya untuk anda. Jadi, ketika mengikuti lomba ini, anda tidak saja merayakannya sebagai suatu hal yang menyenangkan, namun sebagai bentuk refleksi semangat kemerdekaan dan perjuangan para pahlawan di zaman dulu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Sejarah menjelaskan, tradisi perlombaan pada hari kemerdekaan mulai marak pada saat Indonesia merayakan ulang tahun kelima pada tahun 1950 namun belum diketahui dengan jelas siapa tokoh yang dibalik perayaan lomba ini. Di tahun tersebut, intensitas pertempuran mulai berkurang sehingga perlombaan ini dapat dinilai sebagai ungkapan kegembiraan dan perayaan atas kemerdekaan Indonesia. Menurut Heri Priyatmoko, panjat pinang pernah menjadi salah satu hiburan pada saat pernikahan Mangkunegara VII. Dari masa sebelum kemerdekaan hingga saat ini, berbagai perlombaan tersebut masih eksis menjadi penyemarak perayaan HUT RI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><strong>Sejarah dan makna di balik setiap lomba<\/strong><\/span><\/p>\n<ul style=\"list-style-type: circle;\">\n<li><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Balap Karung<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Banyak yang meyakini bahwa lomba ini merupakan wujud perayaan atas kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang. Pada saat itu masyarakat Indonesia hanya menggunakan pakaian sederhana yang terbuat dari karung goni, plastik ataupun karet. Padahal lomba ini telah populer sejak Belanda menginjakkan kaki di Indonesia. Saat itu, misionaris Belanda mengadakan lomba ini untuk instansi-instansi bentukan Belanda. Ternyata lomba ini pun menarik rakyat Indonesia untuk berpartisipasi, bahkan hingga zaman penjajahan Jepang dan saat ini<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/2.-balap-karung.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18247 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/2.-balap-karung-300x151.jpg\" alt=\"\" width=\"358\" height=\"180\" \/><\/a><span style=\"font-size: 8pt;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/jogjaupdate.com\/\">https:\/\/jogjaupdate.com\/<\/a><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Panjat Pinang<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/3.-panjat-pinang.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-18248 alignleft\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/3.-panjat-pinang-194x300.jpg\" alt=\"\" \/><\/a>Dahulu, permainan ini digunakan sebagai hiburan dan bahan candaan bagi kaum kolonial pada acara pernikahan maupun hajatan. Orang Belanda mengadakan permainan ini dan pesertanya adalah masyarakat Indonesia yang memperebutkan \u2018barang mewah\u2019 seperti keju, gula, dan kemeja yang ditaruh di atas pohon pinang atau tiang. Saat ini, lomba panjat pinang dapat dimaknai sebagai panjangnya perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan, oli sebagai pelicin menggambarkan rintangan dari penjajah dan hadiah di puncak menggambarkan keberhasilan Indonesia meraih kemerdekaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 8pt;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/\">kumparan.com<\/a><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Makan Kerupuk<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Ide lomba ini diawali dengan melihat kondisi masyarakat Indonesia di zaman penjajahan yang makan serba apa adanya. Kerupuk merupakan makanan yang murah dan mudah didapat oleh masyarakat, namun makanan sederhana ini tidak menyurutkan semangat juang para pejuang di masa penjajahan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/4.-kerupuk.jpeg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-18249 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/4.-kerupuk-300x140.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><span style=\"font-size: 8pt;\">Sumber : <a href=\"http:\/\/idws.id\/\">Portal Indowebster<\/a><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Tarik Tambang<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tarik tambang bukan berasal dari Indonesia, tapi konon, tarik tambang di Indonesia dijadikan sebagai simbol perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda. Saat itu rakyat Indonesia dipaksa kerja berat dan dijadikan kuli untuk memindahkan batu, pasir dan berbagai benda berat lainnya menggunakan tambang. Kemudian, muncul ide dari para pekerja untuk menjadikan tarik tambang sebagai ajang adu kuat antar rakyat yang dijajah, juga sebagai bentuk hiburan<\/span><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/5.-tarik-tambang.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-18250 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/5.-tarik-tambang-300x199.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><span style=\"font-size: 8pt;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/amcnews.co.id\/\">AMC News<\/a><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Bakiak<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/08\/6.-bakiak.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-18251 alignright\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/6.-bakiak-300x129.jpg\" alt=\"\" \/><\/a>Sebenarnya bakiak merupakan permainan tradisional anak-anak Sumatra Barat yang dimainkan hingga tahun 1970-an. Sedangkan di Jawa Tengah, bakiak <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">adalah sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu ringan dengan pengikat kaki dari ban bekas yang dipaku di kedua sisinya. Konon, bakiak diinspirasikan oleh Jepang yang sudah memakai telapak kayu untuk Geisha-Geisha yaitu seniman atau penghibur tradisional Jepang. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks perlombaan, balap bakiak menjadi simbol kerjasama dan kekompakan. Permainan ini dapat dimenangkan jika kita memiliki langkah yang harmonis dan kuat. Maknanya dalam kehidupan saat ini adalah untuk mencapai tujuan bersama, semua unsur yang terlibat harus bekerja dan saling bahu-membahu<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Masih terdapat berbagai jenis lomba lainnya yang memiliki makna dalam kemerdekaan Indonesia. Namun, beberapa contoh diatas merupakan lomba yang paling populer di kalangan penduduk Indonesia. Maka dari itu, alangkah lebih baik jika kita memahami sejarah dan esensi lomba-lomba tersebut karena makna dari perlombaan ini sangatlah menggambarkan semangat hidup dan juang rakyat Indonesia di zaman dulu<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 8pt;\">Sumber : <a href=\"https:\/\/www.tokopedia.com\/blog\/\">Tokopedia Blog<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><b>Referensi<\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.suara.com\/lifestyle\/2014\/08\/17\/152418\/ini-sejarahnya-tradisi-lomba-17-agustus?page=2\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.suara.com\/lifestyle\/2014\/08\/17\/152418\/ini-sejarahnya-tradisi-lomba-17-agustus?page=2<\/span><\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2019\/08\/13\/06000031\/jelang-hari-kemerdekaan-kenali-sejarah-dan-makna-lomba-17-agustus?page=all\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2019\/08\/13\/06000031\/jelang-hari-kemerdekaan-kenali-sejarah-dan-makna-lomba-17-agustus?page=all<\/span><\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/akurat.co\/hiburan\/id-58715-read-pahami-sejarah-permainan-balapbakiak?page=2\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/akurat.co\/hiburan\/id-58715-read-pahami-sejarah-permainan-balapbakiak?page=2<\/span><\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\">Penyunting : Meylisa Sahan &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Versi Bahasa Inggris, klik di sini\u00a0 Dirangkum dan ditulis oleh Dinda Amalia Ichsani &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor\u00a0 Masih dalam suasana perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, rasanya kurang afdol jika [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/08\/21\/bukan-sekedar-lomba-begini-pentingnya-memahami-sejarah-dan-makna-lomba-17-agustus\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-18246","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.2","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":false,"content":false,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18246\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}