{"id":18550,"date":"2020-09-24T21:11:37","date_gmt":"2020-09-24T11:11:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=18550"},"modified":"2021-07-10T12:09:40","modified_gmt":"2021-07-10T02:09:40","slug":"mengenal-angin-muson-si-pembawa-hujan-dan-kemarau-untuk-australia-dan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/09\/24\/mengenal-angin-muson-si-pembawa-hujan-dan-kemarau-untuk-australia-dan-indonesia\/","title":{"rendered":"Mengenal Angin Muson, Si Pembawa Hujan dan Kemarau untuk Australia dan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Versi Bahasa Inggris, klik <a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2020\/09\/get-to-know-the-monsoons-the-carriers-of-rain-and-drought-to-australia-and-indonesia\/\">di sini<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><em>Ditulis oleh Dinda Amalia Ichsani &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor<\/em><\/span><br \/>\n<span style=\"font-size: 10pt;\"><em>Disunting oleh Meylisa Sahan &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor<\/em><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Ketika hujan tiada henti melanda Indonesia di bulan Januari, saat yang sama musim panas melanda Australia. Fenomena ini dapat digali lebih dalam jika kita mengenal apa itu angin muson. Angin muson merupakan angin yang berhembus melalui skala regional dalam cakupan benua yang terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara yang mencolok antara daratan dan samudra. Berdasarkan letak astronomis dan geografis Indonesia dan Australia, angin ini melakukan perjalanannya secara berkala. Sistem ini akhirnya mempengaruhi cuaca di berbagai tempat di Australia dan Indonesia. Istilah angin muson biasa juga disebut angin munsoon atau moonsun, yang berasal dari kata bahasa Arab yang berarti musim. Angin muson dibagi menjadi dua jenis yaitu angin muson barat dan angin muson timur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/1.jpeg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-18552\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/1-300x220.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 8pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ilustrasi pergerakan angin muson. Sumber gambar : <a href=\"https:\/\/bobo.grid.id\/\">Bobo grid<\/a><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar bulan Oktober &#8211; April di Indonesia, angin muson barat mulai bertiup dari wilayah Asia kemudian melewati samudra Hindia menuju ke benua Australia. Pada kondisi ini, kedudukan semu matahari berada di belahan bumi selatan dan akan menyebabkan tekanan tinggi di kawasan Asia termasuk Indonesia, namun tekanan menjadi rendah di kawasan Australia. Sesuai dengan Hukum Buys Ballot, angin mengalir dari tempat bertekanan tinggi (dingin) ke tempat bertekanan rendah (panas). Pada saat menuju khatulistiwa, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gaya Coriolis akan menyebabkan angin berbelok ke arah kiri. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Angin yang melewati samudra yang luas ini membawa uap air dalam jumlah besar, sehingga pada Oktober-April Indonesia dilanda musim hujan dengan curah hujan tinggi terutama di wilayah barat, dan sebaliknya, terjadi musim panas di Australia pada Desember-Februari. Kemudian, angin ini terus bergerak dari barat menuju Australia dengan membawa uap air yang menyebabkan musim dingin dan turunnya hujan di Australia pada Juli-Agustus.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/0.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-18553 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/0-300x142.jpg\" alt=\"\" width=\"443\" height=\"210\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 8pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Angin muson barat (kiri) dan angin muson timur (kanan). <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber gambar : <a href=\"http:\/\/fishconsult.org\/\">Fish consult<\/a><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan angin muson timur bertiup dari kawasan Australia menuju Asia pada April-Oktober di Indonesia. Angin ini bergerak ketika matahari sedang berada di belahan bumi utara dan menyebabkan kawasan Australia mengalami musim dingin dimana tekanan udaranya maksimum, namun benua Asia akan bersuhu lebih panas dengan tekanan minimum. Pada saat menuju khatulistiwa, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gaya Coriolis akan menyebabkan angin berbelok ke arah kanan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Angin muson timur yang bergerak dari Australia menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau. Hal ini karena angin yang bertiup banyak berasal dari daerah gurun pasir yang bersifat kering di bagian utara Australia dan juga melewati laut yang sempit. Oleh karena itu, uap air yang terkandung tidaklah sebanyak yang dibawa oleh angin muson barat.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Dibalik musim hujan dan kemarau, terdapat juga berbagai dampak positif maupun negatif yang disebabkan oleh pergerakan angin\u00a0 muson bagi kehidupan di Indonesia dan Australia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Dampak positif bagi Indonesia yang diberikan oleh angin muson barat antara lain, tanaman-tanaman menjadi lebih hijau dan subur, mengurangi polusi udara, mengurangi resiko kebakaran hutan, tidak diperlukannya perairan buatan untuk mengairi sawah, dan lainnya. Namun, dampak negatifnya adalah meningkatkan penyakit demam berdarah, meningkatkan resiko bencana banjir dan tanah longsor, dan mengganggu pelayaran nelayan. Sedangkan dampak positif dari angin muson timur adalah nelayan bisa melaut dengan tenang, petani bisa panen dengan tenang, dan tentunya pakaian menjadi cepat kering. Di sisi lain, angin ini menyebabkan banyak tanaman kering dan mati saat kekurangan air, meningkatkan risiko kebakaran hutan, dan warga kesulitan mendapat air bersih.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-18554\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/1_2-300x200.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 8pt;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ilustrasi Hujan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber gambar: <a href=\"https:\/\/sains.kompas.com\/\">Sains kompas<\/a><\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/3.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-18555\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/1_3-300x169.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 8pt;\">Ilustrasi Kemarau. <span style=\"font-weight: 400;\">Sumber gambar:<\/span> (ANTARA FOTO\/Dedhez Anggara) <a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/\">CNN Indonesia<\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Di Australia, dampak yang disebabkan oleh angin muson tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Namun, perbedaan utamanya terletak pada waktu terjadinya pergerakan angin muson barat dan timur. Secara garis besar, dampak yang diberikan adalah tergantung musim yang sedang terjadi, yaitu pada musim panas atau musim dingin saat turunnya hujan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Sehingga dapat kita ketahui bahwa musim hujan dan musim kemarau yang terjadi di Indonesia dan Australia disebabkan oleh angin muson yang bergerak secara periodik dan beraturan. Pada rentang waktu tertentu, Indonesia mengalami musim hujan dan meneruskan uap airnya ke Australia sehingga menyebabkan hujan dan musim dingin. Dan selanjutnya, pergerakan angin yang berasal dari daerah kering Australia membawa dampak kemarau di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><b>Referensi<\/b><\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.nationalgeographic.org\/encyclopedia\/monsoon\/\"><span style=\"font-size: 13.3333px;\">Monsoon &#8211; National Geographic.<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ilmugeografi.com\/fenomena-alam\/angin-muson\"><span style=\"font-size: 10pt;\">Angin Muson : Pengertian, Proses, Jenis dan Dampaknya<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Versi Bahasa Inggris, klik di sini. Ditulis oleh Dinda Amalia Ichsani &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor Disunting oleh Meylisa Sahan &#8211; AIYA National&#8217;s Blog Editor Ketika hujan tiada henti melanda [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/09\/24\/mengenal-angin-muson-si-pembawa-hujan-dan-kemarau-untuk-australia-dan-indonesia\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":6,"featured_media":18552,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-18550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.2","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":false,"content":false,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18550"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18550\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}