{"id":18575,"date":"2020-10-01T10:57:46","date_gmt":"2020-10-01T00:57:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=18575"},"modified":"2021-07-10T12:09:40","modified_gmt":"2021-07-10T02:09:40","slug":"these-photos-ended-colonialism","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/10\/01\/these-photos-ended-colonialism\/","title":{"rendered":"Foto yang mengakhiri penjajahan di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Makna terdalam dari salah satu foto paling terkenal Indonesia<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh Fahry Slatter &#8211; AIYA National Blog, Agustus 2020<\/span><\/em><\/p>\n<p><em>Diterjemahkan oleh Lotte Troost &#8211; AIYA National Translator<\/em><\/p>\n<p><em>Diedit oleh Adolf Richardo &#8211; AIYA National Translator<\/em><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/RIP-in-peace-Dutch-flag.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18576 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/RIP-in-peace-Dutch-flag-300x168.jpg\" alt=\"\" width=\"525\" height=\"294\" \/><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cInsiden Hotel Yamato\u201d, fotografer tidak diketahui, 19 September 1945. Para pejuang merobek bagian biru dari bendera Belanda yang dikibarkan di atas sebuah hotel di Surabaya, Indonesia.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada siang hari tanggal 17 Agustus 1945, pusat kota Batavia (saat ini Jakarta) penuh dengan kegembiraan. Sorak-sorai terdengar dari kerumunan saat Presiden Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tetapi, apa yang terjadi 1 bulan kemudian di Hotel Yamato, Surabaya, tidak kalah besar maknanya untuk kemerdekaan Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang tidak mengetahui bahwa setelah proklamasi 17 Agustus 1945, peperangan besar terjadi selama bertahun-tahun untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama peperangan tersebut, banyak sekali kejadian penting yang terjadi. Salah satu yang terpenting adalah insiden Hotel Yamato di Surabaya. Foto-foto yang akan dibahas dalam artikel ini adalah satu-satunya dokumentasi yang tersisa dari insiden tersebut.<\/span><\/p>\n<p><b>Mari kita berikan penghormatan untuk para pahlawan tersebut.<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Foto-foto tersebut diambil pada tanggal 19 September 1945. Di foto pertama, terlihat beberapa pemuda memegang sebuah bendera di atas bangunan hotel tersebut. Kemudian di foto kedua dan ketiga, dua pemuda menaikkan bendera dua warna. Beberapa pria di tangga bersorak dengan tangan terentang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Foto tersebut\u00a0 tidak diambil pada tanggal 17 Agustus. Bendera Indonesia pun sudah diciptakan beberapa dekade sebelumnya \u2013 jadi mengapa foto tua ini sangat penting bagi bangsa Indonesia? Jawabannya adalah makna di baliknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa minggu sebelum kejadian tersebut, Presiden Sukarno mengumumkan bahwa Indonesia akan mulai mengibarkan bendera merah-putih di seluruh Indonesia. Namun, hal tersebut tidak diinginkan oleh orang Belanda yang masih berada di Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Sudirman.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-18577 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Sudirman-243x300.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><em>General Raden Sudirman, 1930.<\/em><\/p>\n<p><b>Pertempuran di Hotel Yamato<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada malam sebelum kejadian, WV Ch. Ploegman, Walikota Surabaya yang ditunjuk oleh NICA, menaikkan bendera Belanda di atas hotel Yamato untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Pada 19 September, Indonesia yang diwakili oleh Residen Sudirman, Sidik, dan Hariyono pun datang ke hotel untuk mengajukan protes. Namun, ketiganya justru diserang oleh tentara dan anak buah Ploegman. Dalam kemelut tersebut, Sidik membunuh Ploegman, sementara Hariyono mengungsikan residen Sudirman dan kemudian naik ke atap hotel Yamato. Di saat yang sama, Koesno Wibowo juga naik ke atap tersebut. Mereka berdualah yang merobek bagian biru dari bendera Belanda, kemudian menaikkan bagian merah putih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Foto yang dibahas dalam artikel ini menangkap persis momen itu. Sebuah momen yang sangat penting karena pada saat itu Belanda dan Inggris menolak mengakui kedaulatan Indonesia, padahal Presiden Sukarno sudah mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia sebulan sebelumnya<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Hotel-OranjeYamato.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18582 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Hotel-OranjeYamato-300x193.jpg\" alt=\"\" width=\"420\" height=\"270\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peristiwa tersebut merupakan momen kunci dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut seakan memberikan pesan kepada para penjajah bahwa Indonesia telah menang, dan Indonesia adalah negara berdaulat yang telah mengusir Belanda dan Jepang serta memiliki bendera sendiri. Ada simbolisme yang kuat di baliknya karena bendera Belanda dikibarkan di atas sebuah hotel Jepang, dua bangsa penjajah Indonesia. Hotel Yamato sendiri merupakan sebuah bangunan yang memiliki sejarah panjang. Hotel tersebut pertama kali dibuka pada 1910 sebagai Hotel Oranje. Pada masa pendudukan Jepang, hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Yamato, dan digunakan sebagai markas militer Jepang. Pada masa perjuangan kemerdekaan, hotel ini berganti nama kembali menjadi Hotel Merdeka. Akhirnya, pada 1969, hotel ini menjadi Hotel Majapahit hingga hari ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di masa sebelum teknologi menjadikan dunia sempit seperti saat ini, Indonesia perlu mengirimkan pesan yang lugas dan kuat mengenai kesiapan Indonesia untuk menjadi negara merdeka. Foto insiden hotel Yamato merupakan media yang yang sempurna untuk menyampaikan pesan tersebut<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/aG2L7j5VoUVQdkpJSfvF587_80EnhKkgiXlbWlFuDl4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-18580\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/aG2L7j5VoUVQdkpJSfvF587_80EnhKkgiXlbWlFuDl4-215x300.jpg\" alt=\"\" width=\"226\" height=\"315\" \/><\/a> <a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/Screen-Shot-2020-08-12-at-10.48.39-AM.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-18581\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Screen-Shot-2020-08-12-at-10.48.39-AM-300x286.png\" alt=\"\" width=\"296\" height=\"282\" \/><\/a><\/p>\n<p><em>Ilustrasi (kiri) oleh pelukis dari Belanda, <a href=\"https:\/\/www.lambiek.net\/artists\/d\/dongen_van.htm\">Peter Van Dongen. <\/a><span style=\"font-weight: 400;\">Foto (kanan) oleh <a href=\"https:\/\/historia.id\/politik\/articles\/meluruskan-peristiwa-insiden-bendera-di-surabaya-vgLmZ\">Randy Wirayudha<\/a><\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perobekan bagian biru bendera Belanda di hotel Yamato masih merupakan sebuah tradisi di Surabaya hingga hari ini. Pada tanggal 18 Mei 2019, Walikota Surabaya Tri Rismaharini memimpin tradisi tahunan ini dan menginspirasi rasa nasionalisme dalam hati masyarakat Surabaya. Ia <\/span><a href=\"https:\/\/surabaya.liputan6.com\/read\/4066917\/7-momen-drama-teatrikal-mengenang-perobekan-bendera-belanda-di-surabaya\"><span style=\"font-weight: 400;\">mengatakan <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa \u201cwarga Surabaya tidak akan takut dan menyerah, sama seperti kakek-nenek kita tidak menyerah di hari bersejarah 74 tahun yang lalu\u201d.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makna terdalam dari salah satu foto paling terkenal Indonesia Oleh Fahry Slatter &#8211; AIYA National Blog, Agustus 2020 Diterjemahkan oleh Lotte Troost &#8211; AIYA National Translator Diedit oleh Adolf Richardo [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/10\/01\/these-photos-ended-colonialism\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":35,"featured_media":18576,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-18575","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.2","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18575","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18575"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18575\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18575"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18575"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18575"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}