{"id":18746,"date":"2020-11-01T11:57:34","date_gmt":"2020-11-01T00:57:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=18746"},"modified":"2021-07-10T12:09:47","modified_gmt":"2021-07-10T02:09:47","slug":"18746","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/11\/01\/18746\/","title":{"rendered":"Kanvas kosong untuk ekspresi diri \u2013 Mengenal berbagai jenis batik"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh Fahry Slatter &#8211; AIYA National Blog Editor<\/span><\/em><\/p>\n<p>Versi bahasa Inggris, klik <a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2020\/11\/18746\/\">disini<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-Bali-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-18749\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-Bali-2-300x225.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/p>\n<p><em>Diterjemahkan oleh Adolf Richardo &#8211; AIYA National Translator<\/em><\/p>\n<p><em>Diedit oleh Meylisa Sahan &#8211; AIYA National Blog<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dunia yang semakin mengecil akibat globalisasi ini, semakin sulit bagi kita untuk menemukan ciri khas yang membedakan satu negara dengan negara lain. Kita memiliki ponsel yang sama, dibuat oleh pabrik yang sama, kita mengendarai mobil dengan merek yang sama, bahkan banyak lagu kebangsaan yang terdengar sama satu sama lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin banyak orang mengira bahwa di Indonesia, yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, sangat sulit menemukan sesuatu yang menyatukan semua pulau tersebut. Terlebih lagi, setiap wilayah di Indonesia memiliki ciri khasnya sendiri. Meskipun demikian, satu hal yang dikenal oleh sebagian besar \u2013bahkan mungkin semua- penduduk Indonesia adalah batik. Orang Batak, Sunda, Jawa, Flores, atau manapun di Indonesia akan mengatakan bahwa batik berasal dari Indonesia. Oleh karena itu batik merupakan bagian besar dari identitas Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik bahkan sudah digunakan untuk hal lain selain mode, mulai dari sebuah karya seni hingga sebagai alat diplomasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Apa itu Batik?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berlawanan dengan kepercayaan umum, batik bukanlah suatu bentuk pakaian yang spesifik, Batik merupakan satu bentuk lukisan\/tenunan, yang dicirikan dari pola dan bentuk gambar yang mirip satu dengan yang lain. Namun begitu, tidak semua batik sama. Batik yang biasa Anda lihat kebanyakan berasal dari Jawa. Padahal, masih ada banyak jenis batik dari daerah lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri khas utama dari batik adalah polanya, yang dilukis menggunakan campuran 30% lilin lebah dan 70% paraffin, yang memungkinkan pewarna untuk meresap ke dalam kain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada empat teknik yang bisa Anda gunakan untuk membuat batik, yang akan dibahas di bagian berikut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Teknik<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">1.Batik Blok<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah salah satu cara tertua dalam membuat batik, yang dapat dilakukan dengan alat apapun yang ada. Sebuah balok kayu, yang diukir dengan pola yang diinginkan, dicelup ke dalam lilin dan ditempelkan ke kain untuk mencetak pola tersebut. Ukiran balok kayu tersebut merupakan sebuah karya seni, karena setiap ukiran memerlukan tangan yang terampil dan disiplin yang tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">2.\u00a0 \u00a0Batik Lukis<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini merupakan cara yang juga sudah sangat lama, yang memerlukan kerja keras, ketelitian, dan kecintaan pada batik. Cat yang digunakan adalah lilin panas, dan digoreskan dengan pena khusus bernama canting.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">3. Batik Celup<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan cara ini, Anda dapat menghasilkan pola yang abstrak dan tidak biasa. Ini merupakan cara yang populer untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang batik dan cara membuatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">4. Batik Cetak<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan, Anda bukannya menaruh kain di printer dan mencetak pola di atasnya. Lucunya, pada prinsipnya, cara ini memang seperti itu \u2013 hanya memerlukan lebih banyak tenaga manual. Cara ini melibatkan layar organza, lapisan film tipis, dan tentu saja, lilin. Layar organza dicelup dalam emulsi dan cahaya yang difokuskan akan memindahkan pola yang diinginkan ke layar. Layar itu kemudian digesekkan berulang-ulang ke kain untuk mencetak pola tersebut di kain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya, batik di Indonesia dirancang dengan cara yang menonjolkan keunikan daerah asalnya, dan setiap batik memiliki keunikan tersendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Batik dari berbagai wilayah di Indonesia<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Jawa<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Jawa didominasi dengan warna hitam dan coklat, sesekali ditambah dengan biru gelap. Warna-warna lain yang cukup sering terlihat di batik Jawa antara lain emas, kuning, dan krem. Batik Jawa memiliki banyak corak lekukan, dengan pola yang tidak terlalu abstrak dan seringkali dicocokkan dengan warna yang dipilih.\u00a0 <\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-jawa.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18751 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-jawa-300x77.png\" alt=\"\" width=\"366\" height=\"94\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-Jawa.jpeg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18755 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-Jawa-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"358\" height=\"358\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Kalimantan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan batik Jawa, batik Kalimantan memiliki pola garis lurus dan bersudut. Ini merupakan pengaruh dari suku Dayak, yang menggunakan corak tersebut di perisai dan seragam prajurit mereka. Warna yang digunakan di batik Kalimantan pun lebih beragam. Dalam satu kain bisa digunakan dua, tiga, empat, bahkan lima warna!<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-kalimantan.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18752 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-kalimantan-300x89.png\" alt=\"\" width=\"347\" height=\"103\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Bali<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membedakan batik Bali dengan batik dari daerah lain adalah corak retakannya. Selain itu, alih-alih pola, dalam batik Bali yang ditonjolkan adalah ilustrasi. Kain yang digunakan juga lebih tipis daripada batik dari daerah lain. Motif yang digunakan di batik Bali sangat menonjolkan budaya unik Bali, seperti Candi, Garuda, Hanuman, dan lain-lain. <\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-Bali.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18750 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-Bali-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"339\" height=\"254\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-Bali-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18749 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-Bali-2-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"348\" height=\"261\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Sulawesi<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Sulawesi lebih menonjolkan desain yang simpel dan elegan dari Tana Toraja dengan didominasi warna merah dan putih serta pola melingkar. Pola melingkar ini terinspirasi dari gaya ukiran kayu tradisional Sulawesi. <\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-sulawesi.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18754 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-sulawesi-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"353\" height=\"235\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-khas-Sulawesi.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18756 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-khas-Sulawesi-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"350\" height=\"233\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Ambon and Maluku<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Batik Indonesia Timur memiliki ciri khas yang menonjolkan keindahan alam, seperti pohon dan buah-buahan. Mengapa? Indonesia Timur sangat terkenal dengan rempah-rempah dan hasil alamnya. Motif lain yang cukup umum dipakai di batik Indonesia Timur adalah benda-benda, seperti alat musik dan senjata. <\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-ambon-2.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18747 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-ambon-2-300x79.png\" alt=\"\" width=\"433\" height=\"114\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Batik-ambon-and-maluku.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18748 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Batik-ambon-and-maluku-118x300.png\" alt=\"\" width=\"181\" height=\"460\" \/><\/a><\/p>\n<p><b>Batik \u2013 Hadiah Indonesia untuk Dunia<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2009, UNESCO menyatakan batik sebagai bagian penting dari warisan budaya dunia. Di tahun yang sama, presiden Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menyatakan hari Jumat sebagai \u2018Hari Batik\u2019. Sejak saat itu, setiap hari Jumat, orang-orang di Indonesia diajak untuk menggunakan batik di sekolah, kampus, dan di tempat kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, batik merupakan cara untuk mengapresiasi seni. Bagi yang lain, batik merupakan sarana untuk mengenalkan Indonesia kepada dunia. <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Fahry Slatter &#8211; AIYA National Blog Editor Versi bahasa Inggris, klik disini Diterjemahkan oleh Adolf Richardo &#8211; AIYA National Translator Diedit oleh Meylisa Sahan &#8211; AIYA National Blog Di [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/11\/01\/18746\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":35,"featured_media":18749,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-18746","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.2","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18746","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18746"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18746\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18746"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18746"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18746"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}