{"id":18945,"date":"2020-11-14T23:24:46","date_gmt":"2020-11-14T12:24:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=18945"},"modified":"2021-07-10T12:09:54","modified_gmt":"2021-07-10T02:09:54","slug":"explaining-common-and-obscure-indonesian-street-slang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/11\/14\/explaining-common-and-obscure-indonesian-street-slang\/","title":{"rendered":"Menjelaskan Bahasa Gaul Indonesia yang Umum dan Tidak Jelas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/AIYA-Comedy-Article-cover.png\"><img decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-18942 alignleft\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/AIYA-Comedy-Article-cover-300x300.png\" alt=\"\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\">Versi Bahasa Inggris, klik di<a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2020\/11\/explaining-common-and-obscure-indonesian-street-slang\/\"> sini<\/a><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\">Ditulis oleh Fahry Slatter \u2013 AIYA Blog Editor<\/span><br \/>\n<span style=\"font-size: 10pt;\">Diterjemahkan oleh Gabriella Pasya \u2013 AIYA National Translator<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u201cJomblo\u201d<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u201cJadian\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u201cNembak\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u201cBuaya Darat\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Jika kalian ingin tahu arti suatu kata, biasanya akan mencarinya dalam Kamus ataupun Tesaurus. Tapi hari ini, kita kan mencari kata- kata yang tidak akan ada (dan kemungkinan besar tidak akan pernah ada) di Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia, yaitu kata- kata gaul remaja. Kata- kata versatil ini, jika digunakan dalam konteks yang benar (atau salah) bisa memunculkan berbagai macam rasa dan emosi, mulai dari kegembiraan, gairah, amarah bahkan duka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Kalian mungkin bakal kegirangan jika seseorang datang menghampiri dan berkata \u201chey kamu Buaya Darat\u201d, serasa ingin menepuk pundak sendiri, berpikir kalau kalian adalah orang asing yang luar biasa, padahal sebenarnya kalian sedang dilabeli hal yang berkonotasi negatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Jadi, aku sudah menyiapkan penjelasan. Kenapa? Untuk menghindarkan kalian dari rasa malu yang tidak perlu, mengurangi rasa canggung, dan mengurangi tawaan para remaja saat mereka melihat kalian di Instagram\/Tinder menggunakan caption yang tidak tepat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><em><b>-Jomblo (Jom-blow)-<\/b><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Jomblo adalah istilah dengan konotasi negatif, diciptakan oleh remaja remaja Sunda garis keras yang mengira bahwa merokok dan berjalan menggandeng skateboard sepulang sekolah itu keren. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang masih lajang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Kata ini sudah menjadi ungkapan sangat populer, sebagai komplain,sebagai klaim, sebagai hinaan dan sebagai suatu istilah yang dipakai secara terkhusus dalam kamus bahasa gaul Indonesia. Kata ini mulai mencapai popularitasnya sekitar awal tahun 2010 seiring naiknya penggunaan SMS dan smartphone. Akar dari kata ini berasal dari kata lain yang digunakan untuk mendeskripsikan seorang wanita berumur yang belum menikah. Dalam bahasa inggris, padanan katanya adalah spinster (perawan tua). Sekarang kata ini sudah berevolusi menjadi bermakna,\u00a0 semua orang yang masih lajang atau untuk menggambarkan seseorang yang tidak dapat memperoleh pasangan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Yang mencela kata Jomblo mengklaim bahwa kata ini eksploitatif, antagonis, dan bertentangan dengan harmoni sosial yaitu bersahabat satu sama lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Yang membela kata\u00a0 Jomblo mengatakan kata ini menyenangkan, dan merupakan bagian dari komunitas serta elemen bahasa Indonesia yang mereka gunakan secara bebas tanpa sensor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Akhir-akhir ini, semakin banyak orang Indonesia yang tidak menentang menjadi lajang dan tidak mengerti mengapa harus ada tekanan untuk menjalin hubungan dengan cepat.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><em><b>-Jadian (Ja-dee-aan)-<\/b><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Berkebalikan dari Jomblo, Jadian adalah istilah yang digunakan jika segala sesuatunya berjalan dengan benar (dengan asumsi bahwa kalian ingin menjalin hubungan sejak awal). Secara harfiah diterjemahkan, kata tersebut berarti &#8220;terjadi&#8221; atau &#8220;itu terjadi&#8221;, untuk mengatakan bahwa &#8220;Akhirnya terjadi, kedua orang ini akhirnya bersama&#8221;. Sederhananya, itu berarti mulai berkencan dengan seseorang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Tapi jangan tertipu. Jadian juga bisa digunakan untuk menghina dan meledek, seperti dua orang yang sangat dekat satu sama lain secara tidak romantis, tetapi teman-temannya ingin memberi implikasi bahwa mereka sedang bersama. Misalnya, ini dapat digunakan untuk menggoda dua pria yang sebenarnya hanyalah teman dekat, dan menyiratkan bahwa mereka berada dalam hubungan homoerotik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u201cCiee Ijul jadian sama Udin yaaa?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Atau seorang pria dan wanita yang menurut teman-temannya akan menjadi pasangan yang baik, tetapi mereka tidak bersama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">\u201cKok kalian belum jadian sih?\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Istilah ini tidak sekuat \u201cjomblo\u201d, kata lebih dianggap sebagai candaan\u00a0 lucu daripada istilah yang digunakan untuk mengejek seseorang.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><em><b>-Nembak (Nem-baak)-<\/b><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Aku sudah menggambarkan sebuah kata yang artinya lajang, dan\u00a0 kata yang artinya akan berada dalam suatu hubungan, sekarang ada istilah untuk menggambarkan proses mendapatkan pasangan. Istilah \u201cnembak\u201d merujuk pada bahasa gaul yang maknanya tidak jelas untuk mengungkapkan perasaan seseorang terhadap orang yang disayang \/ dikaguminya. Secara harfiah diartikan to shoot (menembak) Diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari, artinya meminta seseorang untuk menjadi pasangan. Secara tradisional, istilah ini digunakan terutama untuk pria yang ingin meminta seorang wanita untuk menjadi pacar mereka. Namun, istilah tersebut sekarang digunakan secara luas oleh kedua gender. Baru-baru ini, ada kenaikan perempuan yang meminta laki-laki lebih dulu daripada sebaliknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Istilah nembak biasanya memancing berbagai macam emosi, terutama rasa ingin tahu. Mengatakan satu\u00a0 kata ini saja kepada seorang teman bisa menimbulkan banyak pertanyaan (siapa yang akan nembak?), atau sorak-sorai (semoga berhasil nembak gadis itu). Cara mengucapkan istilah ini adalah mengucapkan bagian \u2018bak\u2019 seolah-olah mengucapkan \u201cBach\u201d seperti Sebastian Bach, kecuali dengan 2 As. Satu hobi favorit orang Indonesia adalah mengobrol dan berbagi cerita nembak satu sama lain. <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Cerita semacam itu bisa berisi usaha melucu, kegagalan, dan kesuksesan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/ceweknemba-1592625607.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-18940\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/ceweknemba-1592625607-300x200.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><em><b>-Gabut (Ga-boot)-\u00a0<\/b><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Gabut pertama kali diciptakan oleh mahasiswa yang tidak melakukan apa-apa di kelas dan \/ atau merasa sangat bosan. Awalnya, istilah ini digunakan secara eksklusif oleh mahasiswa, tetapi telah meluas untuk menggambarkan siapa saja yang bosan, baik di sekolah, di kantor, atau di rumah. Dalam istilah ini, pengguna membuat klaim bahwa mereka bosan dan biasanya akan menindaklanjuti dengan undangan untuk pergi keluar atau datang ke suatu tempat, tergantung situasinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">John: Hey bro, what are you doing? Bro lagi ngapain?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Michael: I\u2019m gabut in class. Come here lol. Gue lagi gabut banget ni di kelas, sini dong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 10pt;\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Gabut-di-kelas.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-18941 aligncenter\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Gabut-di-kelas-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"357\" height=\"201\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Istilah ini misterius karena tidak ada yang tahu asal-usulnya. Kata itu tidak memiliki kemiripan atau bahkan terdengar mirip dengan kata dalam bahasa Indonesia bosan. Pada pemikiran pertama, ini mungkin terdengar seperti gabut adalah singkatan, karena kebanyakan kata dalam bahasa Indonesia disingkat mis. PilPres, MoNas, dll. Namun, jawaban yang jujur dan benar adalah bahwa tidak ada yang tahu, dan jika ada yang mengaku tahu, kemungkinan besar mereka berbohong.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: 10pt;\"><em><b>Yaelah (Ya-EL-ah)\u00a0<\/b><\/em><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Definisi: Ya Tuhan (kekecewaan)\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Yaelah adalah frasa negatif yang digunakan untuk mengungkapkan kekecewaan seseorang. Ini adalah perwujudan saat kalian memutar mata karena ketidakpuasan. Istilah ini biasanya digunakan untuk mengungkapkan kekecewaan seseorang pada seseorang yang memberikan alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Sangat sederhana, hanya tiga penggalan kata, namun anehnya sangat serbaguna.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Jenni: &#8220;Shelly tidak mau ikut kita berlari hari ini karena di luar terlalu panas&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Nurul: Yaelah\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Tapi, berhati-hatilah saat menggunakan kata ini, karena kata tersebut dapat dianggap sangat kasar jika ditujukan langsung kepada orang yang membuat kalian kecewa. Sama seperti yang dicontohkan, istilah ini paling baik digunakan saat orang yang membuat kalian marah tidak ada.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; font-size: 10pt;\">Itu dia! Sekarang, ketika seseorang mengemukakan kata-kata di atas, kalian dapat secara intelektual merespons dan memberikan respons yang sesuai. Yang bisa kita pelajari dari hal ini adalah komunikasi itu rumit. Kita harus berhati-hati dengan kata apa yang kita gunakan dan kapan kita menggunakan kata-kata ini, karena konteks itu penting. Kata yang bisa menjadi antagonis terkadang bisa sebagai candaan, dan kata yang aslinya memiliki arti positif, bisa dianggap negatif jika digunakan secara tidak benar.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Versi Bahasa Inggris, klik di sini Ditulis oleh Fahry Slatter \u2013 AIYA Blog Editor Diterjemahkan oleh Gabriella Pasya \u2013 AIYA National Translator \u201cJomblo\u201d \u201cJadian\u201d \u201cNembak\u201d \u201cBuaya Darat\u201d Jika kalian ingin [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2020\/11\/14\/explaining-common-and-obscure-indonesian-street-slang\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":35,"featured_media":18942,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-18945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.0","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18945"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18945\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}