{"id":21448,"date":"2021-03-22T16:49:19","date_gmt":"2021-03-22T05:49:19","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=19819"},"modified":"2021-07-10T12:10:08","modified_gmt":"2021-07-10T02:10:08","slug":"why-is-football-so-big-in-melbourne","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2021\/03\/22\/why-is-football-so-big-in-melbourne\/","title":{"rendered":"Mengapa Football begitu besar di Melbourne?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi banyak orang, Melbourne dianggap sebagai ibu kota olahraga dunia; sebuah kota di mana ribuan orang berkumpul untuk menghadiri berbagai acara sepanjang tahun.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2018, Melbourne terpilih sebagai<\/span><a href=\"https:\/\/corporate.visitvictoria.com\/news\/melbourne-wins-best-sports-tourism-destination\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Destinasi Wisata untuk Olahraga<\/span><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">terbaik di Asia, sementara dunia telah menjuluki Melbourne sebagai Kota Olahraga dekade ini pada tahun<\/span><a href=\"https:\/\/mopt.com.au\/news\/melbourne-the-sporting-capital-of-the-world\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">2016<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lockdown<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengganggu tahun 2020 dan pertandingan olahraga di Melbourne berantakan karena Corona, kerumunan orang mulai kembali dengan penonton yang hadir menyaksikan berbagai pertandingan olahraga selama bulan-bulan musim panas. Namun, terlepas dari banyaknya pilihan pertandingan olahraga musim panas yang tersedia, bulan-bulan musim dingin lah yang paling dinantikan oleh kota olahraga bagian Selatan ini. AFL telah dilanjutkan, dan kegembiraan mulai terbentuk.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Apa itu AFL ?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">AFL adalah kompetisi level tertinggi untuk Australian Rules Football, sebuah permainan unik yang diciptakan pada akhir<\/span><a href=\"https:\/\/www.afl.com.au\/about-afl\/history\"><span style=\"font-weight: 400;\"> 1850<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">-an<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk menjaga pemain kriket tetap fit selama bulan-bulan musim dingin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun Tom Wills sering disebut sebagai pelopor permainan tersebut, Australian Football<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">juga memiliki akar dari masyarakat pribumi. Banyak yang berpendapat bahwa permainan ini pernah terinspirasi oleh permainan pribumi, yaitu<\/span><a href=\"https:\/\/www.abc.net.au\/news\/2019-06-14\/afl-latest-stance-proves-history-of-aussie-rules-is-in-debate\/11202802\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Marngrook<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak seperti kebanyakan aturan sepak bola, permainan ini dimainkan di lapangan berbentuk oval dan setiap tim terdiri dari 18 pemain. Skor, yang bernilai 6, diperoleh sebuah tim dengan menendang bola masuk ke gawang tengah, sementara tim memperoleh 1 angka jika bola hanya masuk di gawang samping.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepuluh dari 18 tim AFL berasal dari Victoria, yang berarti AFL adalah daya tarik<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">utama di Melbourne.<\/span><\/p>\n<div id=\"attachment_19820\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/cricket.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-19820\" class=\"wp-image-19820 size-medium\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/cricket-300x225.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-19820\" class=\"wp-caption-text\">Kerumunan penonton yang dibatasi jumlahnya telah kembali menonton olahraga musim panas di Melbourne.<\/p><\/div>\n<p><b>Apa yang terjadi musim lalu?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musim AFL 2020 dipengaruhi COVID-19 secara signifikan, dan peraturan yang diterapkan selanjutnya. Musimnya dimulai tanpa penonton, sebelum ditunda setelah satu putaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat tantangannya, musim tersebut lebih singkat durasinya daripada biasanya, dan meminta kesepuluh tim Victoria untuk pindah ke negara bagian lain karena Victoria berjuang menangani gelombang kedua virus corona. Warga Melbourne tetap berkarantina di dalam rumah dan terpaksa untuk menonton tim mereka dari sofa nyaman mereka masing-masing, walaupun kerumunan penonton mulai kembali di Brisbane, Perth, dan Adelaide.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Grand Final, yang biasanya diadakan di MCG berkapasitas 100.000 dipindahkan ke GABBA di Brisbane. Dua tim Victoria, Richmond dan Geelong, bersaing dalam<\/span><a href=\"https:\/\/www.afl.com.au\/matches\/2904\"> <span style=\"font-weight: 400;\">penentuan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> juara musim ini. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Richmond dengan skor 31 poin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Pentingnya Football di Melbourne<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pentingnya olahraga dan budaya populer di Australia kontemporer ditinjau dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Chris Baker dari Monash University pada tahun 2005. Mengapa olahraga telah menjadi pilar utama identitas nasional? Ini merupakan salah satu pertanyaan dalam studinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun Baker mengakui bahwa iklim Australia yang sejuk dapat berkontribusi pada obsesi masyarakat Australia dengan olahraga, dia menyatakan bahwa obsesi dengan olahraga memiliki arti budaya yang lebih dalam, yaitu sebagai mekanisme untuk mengungkap karakter orang Australia. Sedemikian pentingnya budaya olahraga Australia, AFL telah menyelenggarakan pertandingan di Cina, dalam upaya memanfaatkan permainan tersebut sebagai sarana untuk mentransfer budaya Australia.<\/span><\/p>\n<div id=\"attachment_19821\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/aflgf.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-19821\" class=\"wp-image-19821 size-medium\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/aflgf-300x226.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"226\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-19821\" class=\"wp-caption-text\">Penonton selama Grand Final 2019<\/p><\/div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Signifikansi budaya olahraga diperkuat dalam hubungan Melbourne dengan Australian Rules Football. Permainan ini dimulai di Victoria, dan menggabungkan budaya pribumi dan kolonial Australia. Australian Football dan budaya Melbourne adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Semua orang, dari yang hanya iseng-iseng saja sampai yang fanatik, memiliki team andalan. Di kota yang beragam dengan warga yang memiliki latar belakang budaya yang beragam pula, olahraga memberikan semangat yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>AFL dan Indonesia<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia ada <\/span><a href=\"https:\/\/www.afl-asia.com\/teams\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">tiga <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">tim Australian Rules Football, yaitu Tokek Bali, Garuda Indonesia, dan Bintang Jakarta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Melbourne, anggota AIYA Victoria bermain Football lokal di Krakatau, sebuah klub yang didirikan untuk menyatukan komunitas Australia-Indonesia di Melbourne. <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi banyak orang, Melbourne dianggap sebagai ibu kota olahraga dunia; sebuah kota di mana ribuan orang berkumpul untuk menghadiri berbagai acara sepanjang tahun.\u00a0\u00a0 Pada tahun 2018, Melbourne terpilih sebagai Destinasi [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2021\/03\/22\/why-is-football-so-big-in-melbourne\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":35,"featured_media":19820,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-21448","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.0","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21448","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21448"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21448\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21448"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21448"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21448"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}