{"id":21456,"date":"2021-04-07T12:52:05","date_gmt":"2021-04-07T02:52:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aiya.org.au\/?p=19835"},"modified":"2021-07-10T12:10:08","modified_gmt":"2021-07-10T02:10:08","slug":"punctuality-and-the-dire-consequences-of-being-late","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2021\/04\/07\/punctuality-and-the-dire-consequences-of-being-late\/","title":{"rendered":"Ketepatan Waktu di Indonesia dan Berbagai Konsekuensi Terlambat"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Banner-Blog-06-scaled.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-19859\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/Banner-Blog-06-scaled.jpg\" alt=\"\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh: Fahry Slatter &#8211; AIYA Blog Editor<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diterjemahkan oleh: Gabriella Pasya &#8211; AIYA National Translator<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Desain Grafis oleh: Dinda Rialita &#8211; AIYA Graphic Design Officer, diawasi oleh Vania Djunaidi &#8211; Koordinator Komunikasi AIYA<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Versi Bahasa Inggris, klik <a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2021\/04\/punctuality-and-the-dire-consequences-of-being-late\/\">disini<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Yang saya suka dari Indonesia:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Fleksibel dengan waktu dan tidak ada yang keberatan jika ada perubahan di menit-menit terakhir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Yang tidak saya suka dari Indonesia:<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Fleksibel dengan waktu dan tidak ada yang keberatan jika ada perubahan di menit-menit terakhir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu elemen budaya Indonesia yang paling klasik adalah mengenai waktu dan bagaimana waktu diperlakukan. Sayangnya, hal ini juga bisa menjadi tantangan yang mengejutkan bagi banyak orang yang datang dari luar negeri atau mereka yang pulang kembali ke Indonesia. Dibutuhkan banyak adaptasi dan kesabaran atau &#8220;pembiasaan&#8221; untuk mentolerir elemen ini &#8211; pada dasarnya sama seperti mempelajari bahasa baru. Saat tumbuh dewasa, ungkapan &#8220;waktu adalah uang&#8221; dan &#8220;waktu menjadi esensi&#8221; telah secara terus- menerus didorong kepada saya dan keterlambatan merupakan hal yang tidak dapat diterima dan tidak sopan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, sudah biasa mendengar cerita dan keluhan orang-orang yang telah menunggu berjam-jam hingga seseorang muncul. Baik dalam pertemuan bisnis, dokter kepada pasiennya, wawancara kerja atau obrolan di kafe terdekat, Anda mungkin mendapati diri Anda menunggu selama apa yang terasa seperti selamanya. Anda mungkin juga terbiasa dengan pembatalan rencana di saat-saat terakhir, atau orang yang mengubah rencana saat sedang dijalankan &#8211; terkadang tanpa alasan yang jelas.<\/span><\/p>\n<p><b>Jam Karet &amp; Ngaret\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, mengapa perbedaan ini terjadi? Bagaimanapun kita masih di Bumi yang sama dan waktu adalah bahasa universal. Ya, di Indonesia juga masih ada 60 menit dalam satu jam, dan ada 24 jam dalam sehari, dan 7 hari masih tetap 7 hari, tetapi masalahnya bukan pada angka, tetapi persepsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pepatah yang umum di Indonesia adalah \u201cJam karet\u201d. Jam Karet atau ngaret adalah ungkapan populer, alasan, klaim, gagasan, dan penjelasan yang digunakan ketika seseorang terlambat. \u201cJam Karet\u201d mengandung arti bahwa jarum jam atau menit pada jam tersebut dapat diputar dan dimanipulasi sehingga kapanpun Anda datang selalu benar. Tapi yang paling penting adalah seperti sepotong karet, waktu itu fleksibel. Terlambat telah menjadi begitu lazim, sampai-sampai sebuah istilah unik diciptakan untuk membenarkannya.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/8.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-19863 size-full\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/8-e1617763785761.png\" alt=\"\" width=\"1920\" height=\"552\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong><i>Jarak kekuasaan\u00a0<\/i><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenyataannya, tidak semua orang dilahirkan sederajat di Indonesia. Anda dapat datang terlambat ke rapat dan janji, hanya karena Anda berada pada <\/span><a href=\"https:\/\/www.hofstede-insights.com\/country-comparison\/indonesia\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">posisi yang lebih tinggi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam rantai komando daripada orang lain. Di mana Anda berada di tangga perusahaan penting, dan itu bisa memberi Anda kartu bebas keluar masuk dari rapat dan tidak ada yang akan menantang Anda. Rapat dimulai ketika kepala honcho mengatakan itu dimulai, meskipun mereka terlambat atau tidak. Dalam beberapa kasus, waktu tidak dianggap sama sekali. Tetapi rantai komando melampaui dari tempat kerja: universitas, sekolah, janji dengan dokter juga menerapkan konsep ini. Profesor bisa datang terlambat ke kuliah universitas, hanya karena mereka adalah orang terpenting di ruangan itu. Guru bisa saja absen, dan tidak ada siswa yang berani mempertanyakan atau menantang, karena dapat merusak hubungan mereka dengan guru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi kekuasaan hanyalah salah satu kepingan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">puzzle<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Lagipula, ada kalanya kekuasaan dibagi rata antara semua orang, seperti sekelompok teman misalnya. Tidak ada teman yang memiliki kekuatan lebih dari yang lain. Hal membawa sifat lain ke dalam konsep, yaitu: kolektivisme.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong><i>Masyarakat kolektivis\u00a0<\/i><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat kolektivis Indonesia mengartikan bahwa pendapat kelompok adalah yang paling penting dan jika setiap orang dalam kelompok tidak terpengaruh oleh orang yang datang terlambat, maka itu menjadi status quo. Sistem komunikasi komunal dan unik di Indonesia dapat ditelusuri kembali ke zaman <\/span><a href=\"https:\/\/indonesiadesignstudio.blog\/2015\/04\/27\/post-d-collectivism-in-indonesia\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Perkampungan&#8221;<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, di mana setiap orang mengandalkan kekuatan sebagai satu kelompok untuk <\/span><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/328922624_The_Influence_of_Collective_Culture_on_Co-design_Practice_in_Indonesian_Cities_Case_Studies_from_Jakarta_Solo_and_Malang\"><span style=\"font-weight: 400;\">bertahan hidup.<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Individu ramah terhadap kelompok, dengan harapan kelompok akan merawat mereka sebagai gantinya. Hal ini paling umum terjadi dalam situasi sosial di Indonesia, di mana menilai seseorang karena terlambat tidak disukai, dan komunikasi eksplisit dipandang sebagai perilaku antagonis. Jadi, diam ketika ada yang telat adalah mekanisme pertahanan, karena terkadang kitalah yang terlambat atau harus membatalkannya di saat-saat terakhir. Menyalahkan seseorang, memanggilnya karena terlambat adalah cara cepat untuk kehilangan teman \/ popularitas di antara lingkaran sosial Anda dan dapat menjadi bumerang bagi Anda. Konsep ini adalah pisau bermata dua yang bisa menguntungkan Anda (Anda mungkin orang yang harus membuat perubahan di menit terakhir dan ingin orang lain memaafkan), tetapi bisa menjadi bumerang bagi Anda, terutama jika Anda adalah orang yang menunggu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pahami dua konsep penting ini dan kita membuka pintu yang memungkinkan kita melihat bagaimana waktu dipersepsikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/9-e1617763822550.png\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-19864\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/9-e1617763822550.png\" alt=\"\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada pemenang atau pecundang dalam hal keterlambatan &#8211; karena setiap orang kalah dan mungkin kesalahpahaman terbesar tentang ketepatan waktu, adalah bahwa hal ini adalah jalan dua arah. Sangat mudah untuk melupakan bahwa ada pihak yang dirugikan dan ketika kita membatalkan sesuatu di saat-saat terakhir, secara tidak langsung kita menimbulkan efek domino. Beberapa orang membatalkan pada saat-saat terakhir atau datang terlambat, hanya karena hal itu tidak terlalu mempengaruhi mereka secara pribadi, dan oleh karena itu tidak akan mempengaruhi orang lain juga &#8211; tetapi kenyataannya, tidak demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semuanya membutuhkan tingkat pengorganisasian dan pengorbanan tertentu &#8211; mengorganisir seseorang untuk bertemu di satu lokasi bisa jadi rumit, dan jika Anda memikirkannya, kita manusia belum mengembangkan sistem komunikasi yang sempurna untuk melakukan ini. Bukan hanya tidak sopan jika membuat seseorang menunggu beberapa menit terkadang berjam-jam, tetapi juga memiliki <\/span><a href=\"https:\/\/www.independent.co.uk\/news\/business\/news\/staff-lateness-costs-economy-ps9-billion-every-year-8191289.html\"><span style=\"font-weight: 400;\">efek domino<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pada jadwal mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Praktik keterlambatan menyebabkan kerugian ekonomi atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trade-off <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pada setiap individu. Waktu adalah biaya hangus yang tidak dapat diambil kembali. Ketika kita memilih untuk bertemu seseorang, kita bisa saja melakukan sesuatu yang lain, tetapi kita mengorbankan kesempatan itu untuk kesempatan lain. Jadi, selama menunggu orang itu muncul, kita bisa saja melakukan hal lain yang lebih penting, seperti menyelesaikan proyek pribadi atau bahkan\u00a0 menemukan obat untuk menyembuhkan flu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari gagasan \u201cJarak kekuasaan\u201d dan \u201cKolektivisme\u201d, terlihat adanya efek turun temurun (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trickle down effect<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Yang pertama dan terpenting adalah bahwa hal ini memberikan contoh yang buruk bagi mereka yang berada di bawah Anda &#8211; dan alirannya meluas ke semua tingkat masyarakat, bukan hanya kolega di kantor. Ambil contoh, siswa &#8211; yang masih muda, naif dan mencari orang dewasa untuk mengikuti jejak mereka, tetapi dikecewakan oleh guru mereka. Paparan yang terus-menerus terhadap kebiasaan terlambat dan ketidakhadiran menanamkan benih yang jahat di dalam pikiran siswa bahwa \u201ctidak apa-apa untuk terlambat dan bahkan tidak muncul di kelas\u201d. Mau bukti?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Australian Aid dan Kementerian Pendidikan Indonesia <\/span><a href=\"https:\/\/www.adb.org\/sites\/default\/files\/publication\/176315\/ino-study-teacher-absenteeism-2014.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">melakukan penelitian bersama<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang ketidakhadiran guru di Indonesia pada tahun 2014 dan menemukan bahwa guru di sekolah lokal di Indonesia memiliki tingkat ketidakhadiran tertinggi. Tingkat nasional menjadi sebesar 10,7%. Bayangkan jika 11% dari waktu Anda di sekolah, guru sekolah Anda bahkan tidak muncul sama sekali! Dalam 200 hari tahun ajaran, ini sama dengan 22 hari ketidakhadiran &#8211; Sebagian besar dari kita rela membunuh untuk mendapatkan liburan selama 22 hari!<\/span><\/p>\n<p><b>Jadi, mengapa tidak ada yang melakukan apa-apa?\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban atas pertanyaan ketepatan waktu di Indonesia bukanlah jawaban biner &#8211; ini bukan jenis jawaban Ya \/ Tidak. Ketepatan waktu semuanya bermuara pada ketulusan dan rasa hormat. Tidak ilegal untuk datang terlambat saat kencan makan siang, atau ngobrol sambil minum kopi di kafe, tetapi keterlambatan merampas\u00a0 &#8211; bukan uang secara langsung &#8211; tetapi waktu. Kita dapat berbicara sebanyak mungkin tentang jarak kekuasaan dan kolektivisme sesuka kita, tetapi hal itu tidak akan pernah berubah. Tidak ada yang bisa kita lakukan yang akan mengubah bagaimana ribuan tahun peradaban telah membentuk suatu komunitas. Bagaimanapun yang bisa kita lakukan, mulailah berubah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini saya menulis artikel tentang <\/span><a href=\"https:\/\/www.aiya.org.au\/2021\/03\/what-we-misunderstand-about-masks\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">pemakaian masker<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> dan bagaimana para anti-masker berpikir. Dengan\u00a0 cara tertentu, orang yang anti-masker dan orang yang terbiasa datang terlambat memiliki ciri yang sama yaitu tidak peduli dengan konsekuensinya dan menganggapnya sebagai hal yang \u201cbukan masalah besar&#8221;. Lain kali ketika Anda membuat janji, sebelum membatalkan atau datang terlambat, pastikan Anda selalu ingat siapa pihak yang dirugikan dan bahwa perubahan sederhana, bisa berarti kehancuran bagi waktu orang lain.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Fahry Slatter &#8211; AIYA Blog Editor Diterjemahkan oleh: Gabriella Pasya &#8211; AIYA National Translator Desain Grafis oleh: Dinda Rialita &#8211; AIYA Graphic Design Officer, diawasi oleh Vania Djunaidi &#8211; [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2021\/04\/07\/punctuality-and-the-dire-consequences-of-being-late\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":35,"featured_media":19859,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-21456","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.0","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21456","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21456"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21456\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21456"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21456"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21456"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}