{"id":25495,"date":"2023-01-24T00:01:31","date_gmt":"2023-01-23T13:01:31","guid":{"rendered":"https:\/\/aiya.org.au\/?p=25495"},"modified":"2023-02-01T01:43:58","modified_gmt":"2023-01-31T14:43:58","slug":"pandangan-dari-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2023\/01\/24\/pandangan-dari-selatan\/","title":{"rendered":"<strong>Pandangan dari Selatan<\/strong>"},"content":{"rendered":"\n<p>Menjelajahi Kontak Pra-Kolonial antara Australia dan Indonesia<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis oleh Leo Barry \u2013 AIYA National Blog Editor<\/p>\n\n\n\n<p>Terjemahan oleh Wes Trianugeraha \u2013 AIYA National Translation Team <\/p>\n\n\n\n<p>Klik&nbsp;<a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/2023\/01\/23\/southward-gaze\/\">di sini<\/a> untuk versi Bahasa Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama kurang lebih 100 tahun sebelum utusan kerajaan Inggris menginjakkan kaki di pantai berpasir <em>Botany Bay<\/em>, orang <em>Yolngu<\/em> di tanah <em>Arnhem<\/em> telah menjalin hubungan dengan orang Bugis di Makassar, Sulawesi Selatan, melalui perdagangan makanan ternak yang sederhana: teripang, atau <em>sea cucumber <\/em>dalam bahasa Inggris. Mengendarai angin muson barat laut sekitar bulan Desember tiap tahun, armada perahu Makassar tiba di pesisir pantai <em>Arnhem Land<\/em>. Di sana, para pelaut Makassar mendirikan pemukiman untuk berdagang dengan penduduk <em>YoIngu<\/em> setempat dengan menukar tembakau, perkakas besi, alkohol, dan kain untuk teripang. Begitu hujan reda beberapa bulan kemudian, muatan teripang yang telah diproses akan dikirim dan dijual ke pedagang-pedagang Cina. Komunitas <em>Yolngu<\/em> telah menjadi bagian dari sistem perdagangan transnasional pra-modern yang luar biasa yang menghubungkan mereka dengan Indonesia, dan lebih jauh lagi ke Cina.<\/p>\n\n\n\n<p>Banyak narasi penting mengenai perdagangan teripang yang berada di luar pandangan historiografi kolonialis telah terekam di dalam alur lagu dan tradisi lisan komunitas <em>Yolngu<\/em> yang kaya akan kebudayaan di <em>Arnhem Land<\/em>. Kisah-kisah dalam lagu dan tarian yang diwariskan dari generasi ke generasi merupakan beberapa narasi dan deskripsi terkaya tentang ikatan yang dalam antara kedua kelompok tersebut. Beberapa bukti kuat tentang keterikatan orang-orang Makassar-<em>Yolngu<\/em> dapat ditemukan dalam kosakata bahasa <em>Yolngu<\/em> Matha (<em>Yol\u014bu Matha<\/em>), yang memiliki kata-kata Melayu, Jawa, Bugis, dan bahkan Portugis. Aspek ritual dan agama Pribumi juga ada di <em>Arnhem Land<\/em> dan tidak di tempat lain di Australia. Sejarah lisan <em>Yolngu<\/em> ini sebagian juga mewakili salah satu sanggahan terbesar dari laporan akademik awal perdagangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Laporan akademik awal tentang hubungan <em>Yolngu<\/em>-Indonesia pada umumnya terfokus secara eksklusif pada perdagangan dengan orang Makassar. Profesor Campbell Macknight dari Australia yang menulis \u201c<em>The Voyage to Marege<\/em>\u201d pada tahun 1976 adalah bagian awal dari pengetahuan akademis yang mempopulerkan sejarah industri ekspor pertama Australia. Macknight mengandalkan penelitian arkeologi dan arsip, tetapi secara terbuka menolak kegunaan tradisi lisan <em>Yolngu<\/em>. Penelitiannya menempatkan awal perdagangan dan kehadiran Indonesia di Australia pada kisaran tahun 1700-an. Peneliti lain telah menemukan cerita <em>Yolngu<\/em> tentang kelompok lain seperti <em>Bayini<\/em> dan <em>Wurumulla<\/em>, komunitas-komunitas terpisah yang diyakini oleh penduduk <em>Yolngu<\/em> telah mengunjungi dan menetap di tanah Arnhem sebelum orang Makassar. Namun, kelompok-kelompok ini menempati <em>grey area<\/em> yang begitu mewabah dalam sejarah lisan \u2013 antara sejarah dan mitos, fakta dan fabel. <em>Wurumulla<\/em> dianggap oleh <em>Yolngu<\/em> berasal dari \u2018tanah orang mati\u2019, sedangkan Bayini berasal dari bulan. Antropolog kedua komunitas tersebut dengan demikian menjadi korban keangkuhan kolonial; bahwa sejarah hanya bernilai sebesar kertas yang bertuliskan narasi tersebut. Oleh karena itu, komunitas-komunitas <em>Wurrumulla<\/em> dan <em>Bayini<\/em> tidak diperlakukan secara selayaknya dan keberadaan mereka tetap dikategorikan ke dalam klasifikasi cerita rakyat dan mitos akademik Barat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 2013, sebuah lukisan batu ganjil di dekat <em>Cape<\/em> <em>Wessel<\/em> di timur laut <em>Arnhem Land<\/em> menjadi bukti \u201cnyata\u201d pertama tentang keberadaan pengunjung pra-Makassar ke benua Australia. Lukisan itu menggambarkan perahu cadik ganda yang sama sekali berbeda dari perahu Makassar manapun; tipe perahu yang lebih mirip dengan perahu yang berasal dari wilayah Maluku di Indonesia. Lukisan seni cadas lain di Kepulauan Wessel menggambarkan sesuatu yang tampaknya merupakan peta yang sangat akurat untuk pulau Banda di Indonesia, yang juga terletak di Maluku. Selama bertahun-tahun, Antropolog Amerika Ian Mcintosh telah bekerja keras untuk mensintesis tradisi lisan <em>Yolngu<\/em> untuk memasukkan perspektif komunitas tersebut ke dalam sejarah. Karyanya telah menghasilkan hasil yang luar biasa, mengubah secara dratis narasi akademis yang diterima tentang hubungan pertama Australia dengan dunia luar.<\/p>\n\n\n\n<p>Mcintosh telah menerbitkan serangkaian makalah dan esai selama beberapa dekade, sekaligus juga bekerja sama dengan para tetua <em>Yolngu<\/em> dan mendirikan kelompok antropolog dan arkeolog bernama &#8220;<em>Pastmasters<\/em>&#8221; yang didedikasikan untuk mempelajari sejarah Arnhem Land. Hal tersebut mendemonstrasikan seberapa detail Mcintosh menunjukkan bagaimana <em>Arnhem Land<\/em> mengalami tidak hanya satu gelombang migrasi Indonesia pra-kolonial, melainkan tiga gelombang migrasi. Ketiga gelombang tersebut dicirikan oleh hubungan yang berbeda dengan Kelompok-kelompok Adat Pertama Arnhem Land, mulai dari \u201ctimbal balik hingga pola pelecehan dan dominasi\u201d. Hubungan yang sangat bervariasi ini dengan jelas tertanam dalam bahasa, adat istiadat, dan seni <em>Yolngu<\/em>, dan dengan terbuka melemahkan konsepsi sederhana yang sebelumnya digunakan untuk menjelaskan hubungan pra-kolonial ini. Beberapa pernyataan Mcintosh mencakup adanya tiga gelombang kontak Indonesia yang berbeda: yang pertama adalah Wurrumula, dilanjutkan dengan Bayini, dan yang terakhir dengan Makassar. Ada juga pernyataan mengenai hipotesis tentang pendirian pangkalan militer oleh orang-orang yang melarikan diri dari konflik antara Belanda dan Kerajaan Gowa-Tallo di pantai Australia pada tahun 1660-an.<\/p>\n\n\n\n<p>Melalui keterlibatannya dengan tradisi lisan <em>Yolngu<\/em> yang berharga ini, McIntosh telah memperoleh wawasan luar biasa tentang sejarah kontak komunitas tersebut dengan dunia luar yang diabaikan begitu saja oleh banyak antropolog sebelumnya. Karya ini mengakui legitimasi sejarah lisan Pribumi dengan menggunakan pendekatan yang menciptakan historiografi anti-kolonial. Pendekataan ini memberikan hasil yang unggul dalam upaya rekayasa ulang masa lalu kita. Namun, sangatlah disayangkan bahwa hal tersebut mengandalkan upaya dari orang non-Pribumi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada September 2022, grup musik <em>Yolngu<\/em> Australia bernama \u2018Ngulmiya\u2019 mengunjungi Indonesia untuk bermain di candi Borobudur di Jawa Tengah. Mereka merupakan bagian dari delegasi budaya Australia untuk acara G20 tahun lalu dan membawakan lagu \u201cBendera Merah\u201d atau \u201c<em>Dharrimana<\/em>\u201d dalam bahasa <em>Yol\u014bu Matha<\/em>. Dalam lagu tersebut, frase Bahasa Indonesia \u201cdari mana\u201d atau \u201cdari mana asalmu?\u201d dapat dikenali secara langsung. Warisan pengaruh Indonesia di Arnhem Land masih sangat jelas hingga masa kini.<\/p>\n\n\n\n<p>Di situs web <em>Pastmaster<\/em>-nya, McIntosh menulis:<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSangat jelaslah sekarang bahwa garis artifisial yang membatasi zona kepercayaan dan pengaruh antara Australia dan Indonesia, yang telah lama dianjurkan (di) dalam literatur antropologi dan arkeologi, sudah seharusnya dihapus.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sangatlah penting untuk mempertimbangkan bahwa perbedaan sejarah kolonial Indonesia dan Australia telah menciptakan perbedaan artifisial antara masa lalu negara kita sendiri. Jika kedua negara mengubah pendekatan yang digunakan untuk melihat sejarah bangsa kita, kita mungkin dapat menemukan bahwa kedua bangsa tersebut tidaklah jauh berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjelajahi Kontak Pra-Kolonial antara Australia dan Indonesia Ditulis oleh Leo Barry \u2013 AIYA National Blog Editor Terjemahan oleh Wes Trianugeraha \u2013 AIYA National Translation Team Klik&nbsp;di sini untuk versi Bahasa [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2023\/01\/24\/pandangan-dari-selatan\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":35,"featured_media":25492,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[2991],"class_list":["post-25495","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog","tag-australiaindonesia"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.0","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":false,"content":false,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25495","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=25495"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25495\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":25512,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/25495\/revisions\/25512"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/25492"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=25495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=25495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=25495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}