{"id":9954,"date":"2017-07-26T15:47:01","date_gmt":"2017-07-26T05:47:01","guid":{"rendered":"http:\/\/www.aiya.org.au\/?p=9954"},"modified":"2021-07-10T12:44:35","modified_gmt":"2021-07-10T02:44:35","slug":"mari-kita-memperdalam-pengertian-dwibahasa-kita-bersama-pojok-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2017\/07\/26\/mari-kita-memperdalam-pengertian-dwibahasa-kita-bersama-pojok-indonesia\/","title":{"rendered":"Mari kita memperdalam pengertian dwibahasa kita bersama Pojok Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Siapa pernah mengalami kesulitan ketika belajar bahasa asing di negara kita sendiri?<\/p>\n<p>Sekarang kita sudah dapat mengatasi kesulitan dan rasa malu waktu berbicara menggunakan bahasa asing seperti Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, dengan suatu kelompok mahasiswa dari Universitas Queensland (UQ) di Australia. Kelompok tersebut bernama Pojok Indonesia, dan dulu didirikan dengan tujuan membantu para pelajar di UQ untuk lebih lancar berbicara Bahasa Indonesia, tetapi grup itu sekarang sudah berkembang dan memperbesar.<\/p>\n<p>Minggu ini AIYA bertanya &#8216;Apa Pojok Indonesia itu sebenarnya?&#8217; kepada salah satu ketua kelompok, Andrian Liem, bersama dengan masukan dari dosen Studi Indonesia di UQ, Dr Annie Pohlman, salah satu pediri Pojok Indonesia lima tahun yang lalu.<\/p>\n<h3>Kegiatan seperti apa yang dilaksanakan Pojok Indonesia?<\/h3>\n<p><strong>Andrian:<\/strong>\u00a0Pojok Indonesia adalah sebuah grup diskusi\/ngobrol informal tentang berbagai topik yang diadakan seminggu sekali. Beberapa kali sempat ada makan malam bersama di restoran Indonesia.<\/p>\n<div id=\"attachment_9956\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/photo2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-9956\" class=\"wp-image-9956 size-large\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/photo2-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"360\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-9956\" class=\"wp-caption-text\">Kelompok mahasiswa saat salah satu pertemuan Pojok Indonesia. Foto: Jane Ahlstrand<\/p><\/div>\n<h3>Mengapa Pojok Indonesia didirikan?<\/h3>\n<p><strong>Andrian:<\/strong>\u00a0Tujuan Pojok Indonesia didirikan setahu saya adalah sebagai sarana untuk membantu mahasiswa yang mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia melatih percakapan dengan orang Indonesia asli.<\/p>\n<p>Tetapi Pojok Indonesia tidak hanya untuk mahasiswa \u2013\u00a0siapa saja yang tertarik atau punya pengalaman dengan Bahasa dan budaya Indonesia bisa datang ke sini.<\/p>\n<p><strong>Annie:<\/strong>\u00a0Awalnya Pojok Indonesia didirikan pada tahun 2012 oleh saya (sebagai wakil program Bahasa Indonesia di Fakultas Budaya dan Bahasa di UQ) bersama dengan UQISA (UQ Indonesian Students\u2019 Association), khususnya Dr Pan Mohamad Faiz and Dr Mirza Satria Buana, yang merupakan kedua President UQISA saat itu (tahun 2012 dan 2013 masing-masing).<\/p>\n<p>Tujuan kami pada waktu itu adalah untuk mendukung diskusi mengenai hubungan Indonesia-Australia dalam Bahasa Indonesia.<\/p>\n<h3>Bagaimana peran Pojok Indonesia dalam memperjuangkan pengajaran Bahasa Indonesia?<\/h3>\n<p><strong>Andrian:<\/strong> Di Pojok Indonesia ada orang Indonesia asli sehingga mereka yang ingin meningkatan kemampuan Bahasa Indonesianya bisa berlatih untuk bercakap-cakap di sini.<\/p>\n<p>Selain kosa kata, bisa juga menambah pengetahuan tentang Indonesia yang tidak diajarkan di kelas.<\/p>\n<h3>Tolong bagikan suatu contoh cerita lucu yang pernah terjadi saat pertemuan Pojok Indonesia, atau suatu ingatan yang paling mengesankan.<\/h3>\n<p><strong>Andrian:<\/strong> Sebagai fasilitator dan orang asli Indonesia, kadang saya suka geli ketika mendengar orang asing mengucapkan kata atau kalimat dalam Bahasa Indonesia karena terdengar berbeda. Atau kadang orang asing juga geli dan heran ketika ada kata Bahasa Indonesia yang sangat berbeda jauh ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.<\/p>\n<p>Misalnya dalam suatu pertemuan topiknya adalah bunga. Bunga <em>marigold<\/em> kesannya anggun kalau dalam Bahasa Inggris tetapi menjadi jelek ketika diubah ke Bahasa Indonesia, yaitu &#8220;bunga tahi ayam&#8221; karena aromanya yang kurang sedap.<\/p>\n<p>Contoh kata lain yang jauh maknanya ketika diterjemahkan adalah ibu jari karena kalau diubah ke Bahasa Inggris jadi <em>motherfinger<\/em>.<\/p>\n<div id=\"attachment_9955\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.aiya.org.au\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/photo1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-9955\" class=\"wp-image-9955 size-large\" src=\"http:\/\/34.101.188.30\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/photo1-1024x576.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"360\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-9955\" class=\"wp-caption-text\">Foto: Jane Ahlstrand<\/p><\/div>\n<h3>Apa yang seharusnya kita lakukan supaya lebih banyak mahasiswa memilih untuk belajar Bahasa Indonesia, dan juga lanjut sampai ke tingkat mahir?<\/h3>\n<p><strong>Andrian:<\/strong> Sebaiknya Bahasa Indonesia dikenalkan sejak usia dini, mungkin dari tingkat sekolah dasar. Tidak hanya Bahasa tetapi Budaya Indonesia, misal melalui tarian, makanan, dan pementasan drama yang diangkat dari cerita rakyat atau legenda nusantara.<\/p>\n<h3>Apakah ada rencana untuk Pojok Indonesia ke depan?<\/h3>\n<p><strong>Andrian:<\/strong> Baru-baru ini Balai Bahasa dan Budaya Indonesian Queensland (BBBIQ) didirikan dan akan membawahi Pojok Indonesia ke depan. Harapannya lebih banyak orang asing yang datang ke Pojok Indonesia dan belajar Bahasa Indonesia.<\/p>\n<p><em>Tertarik dengan Pojok Indonesia? <\/em>Join<em> grup Facebook mereka <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/groups\/538871996172943\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa pernah mengalami kesulitan ketika belajar bahasa asing di negara kita sendiri? Sekarang kita sudah dapat mengatasi kesulitan dan rasa malu waktu berbicara menggunakan bahasa asing seperti Bahasa Indonesia atau [&hellip;]<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/aiya.org.au\/id\/2017\/07\/26\/mari-kita-memperdalam-pengertian-dwibahasa-kita-bersama-pojok-indonesia\/\" class=\"more-link style1-button\">Read More<\/a><\/p>","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[508],"tags":[],"class_list":["post-9954","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-blog"],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"3.0.2","language":"id","enabled_languages":["au","id"],"languages":{"au":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":false,"content":false,"excerpt":false}}},"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9954"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9954\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aiya.org.au\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}