[Member Spotlight] Owen Wishart
Welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to AIYA Yogyakarta Sports officer, Owen Wishart!
Welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to AIYA Yogyakarta Sports officer, Owen Wishart!
Indonesia’s president, Joko Widodo has announced the national capital will move from Jakarta, on the island of Java, to the province of East Kalimantan, on Borneo. Here’s everything you need to know!

Like what we do? Want to join or support your local chapter to contribute to our exciting activities? Sign up as an AIYA member today!
The biggest annual Indonesian concert that has been in Melbourne for 13 years, SOUNDSEKERTA, is back on 28 September in Melbourne Town Hall! The theme this year, “Mosaic of Nation”, showcases the power of music by bringing different cultural, ethnic, religious, and linguistic pieces of Indonesia together into a beautiful mosaic. This event provides a sense of nostalgia to Indonesians that are missing home while giving a unique experience for Melbournians to experience Indonesian music. This year, SOUNDSEKERTA has three artists, not two like previous concerts! The three amazing artists are Tompi, RAN, and Yura Yunita.Read More

Applications are now open for NAILA 2019! Check out our website for more information and how to apply. Applications close 17 September, so ayo, start filming!

NAILA 2019: Categories & Prizes
Like what we do? Want to join or support your local chapter to contribute to our exciting activities? Sign up as an AIYA member today!
Tourists come to Komodo National Park, which stretches across a volcanic explosion of islands in the southern Pacific Ocean, because of the dragons and also for the vibrant sea life. But like other tourist destinations around the world, the inundation of tourists is threatening the very animals and pristine beauty drawing them there.
Like what we do? Want to join or support your local chapter to contribute to our exciting activities? Sign up as an AIYA member today!

Welcome back to Member Spotlight learn more about the lives of those behind AIYA. This week, we introduce you to AIYA President, Clarice Campbell!

The National Australia Indonesia Language Awards (NAILA) have themed this year’s competition ‘Environment’. Watch this space – applications will open soon!
Like what we do? Want to join or support your local chapter to contribute to our exciting activities? Sign up as an AIYA member today!
Photo: DFAT/Flickr
In a time of near universal dependence on the English language, it is all too easy to dismiss the importance of linguistic diversity across the globe. With 2019 declared by the UN as the International Year of Indigenous Languages, members of the Mentawai community are fighting to keep their language alive.
Like what we do? Want to join or support your local chapter to contribute to our exciting activities? Sign up as an AIYA member today!
Ketika pelayanan medis menjadi barang komoditas, orang akan beralih ke pengobatan tradisional atau alternatif untuk kesembuhannya. Inilah salah satu alasan mengapa orang melakukan kerokan sebelum memutuskan berobat ke dokter.
By Johanna Debora Imelda, Universitas Indonesia

Lukisan kerokan di becak di Yogyakarta. Kerokan bisa membuat ketagihan psikologis karena ada interaksi antara pengerok dan yang sakit.
Kerokan populer di negara-negara Asia dan tidak banyak dikenal di benua lain. Bahkan praktik ini tidak ikut berasimilasi walaupun banyak orang Asia bermigrasi ke negara lain. Di Vietnam dan Kamboja kerokan dikenal dengan nama cao gio, sementara dalam bahasa Cina disebut gua sha.
Kerokan termasuk terapi yang dermabrasive (merusak kulit) untuk menyembuhkan gejala masuk angin, seperti mual, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, dan pusing. Gejala masuk angin ini biasanya timbul saat tubuh terganggu oleh udara dingin yang menyempitkan pembuluh darah dan membatasi asupan oksigen di kulit.
Terkadang, reaksi ini hanya terjadi di beberapa bagian tubuh yang spesifik seperti leher dan bagian belakang tubuh. Kerokan berguna untuk memanaskan tubuh dengan menggosok/mengerok bagian tubuh yang terasa dingin.
Kulit yang digosok akan terbuka dan menghasilkan tanda merah karena pembuluh darah di bawahnya rusak. Namun, reaksi ini memungkinkan kulit untuk menerima lebih banyak oksigen dalam pembuluh darah untuk kemudian menetralkan zat beracun yang ada di dalam tubuh.
Kenyataannya, kerokan bukanlah cara yang efektif meningkatkan panas tubuh dibandingkan dengan misalnya minum air hangat atau ramuan herbal seperti air jahe. Namun, rasa nyaman sehabis kerokan membuat orang ketagihan melakukan kerokan setiap kali merasakan gejala masuk angin.
Umumnya kerokan diaplikasikan di bagian punggung yang dipercaya memiliki 365 titik akupuntur. Apabila dilakukan dengan tekanan yang tepat di titik-titik tersebut, kerokan mempengaruhi sistem syaraf yang akan memerintahkan otak untuk memproduksi hormon endorfin sebagai reaksi tubuh untuk menahan rasa sakit dengan memberikan sensasi relaksasi.
Rasa nyaman ini membuat si penderita bisa tidur nyenyak dan merasa lebih segar setelahnya. Daya tahan tubuh penderita akan meningkat dengan sendirinya setelah tubuh istirahat dengan tidur yang cukup.
Faktanya, gejala masuk angin bisa juga disebabkan karena infeksi virus yang mengganggu sistem pencernaan, pernapasan, dan peredaran darah sehingga timbul demam dan nyeri otot, diikuti dengan bersin dan batuk. Dalam dunia medis, gejala ini dikenal dengan sindrom influenza. Tidak ada satu pun obat yang bisa melenyapkan virus ini.
Virus akan hilang dengan sendirinya dalam 5-7 hari sejalan dengan meningkatnya daya tahan tubuh. Penderita hanya perlu istirahat dengan baik, minum banyak air putih dan makan makanan yang bergizi karena demam menghilangkan banyak energi dan cairan dalam tubuh. Kerokan akan membantu penderita untuk bisa istirahat dengan baik.
Walaupun dianggap tidak berbahaya, kerokan membuat si penderita sangat kesakitan. Kerokan bisa menyebabkan komplikasi dan reaksi alergi pada kulit yang digosok terutama untuk kulit sensitif. Apalagi jika uang koin atau alat lain yang digunakan untuk menggosok kulit tidak disterilkan terlebih dulu. Ini bisa menjadi media penularan penyakit, seperti Hepatitis C.
Nilai dan kepercayaan adalah alasan mengapa orang Indonesia melakukan kerokan. Di masyarakat, respons terhadap penyakit berakar dalam sistem kepercayaan dan praktik yang memiliki struktur logika tersendiri.
Walaupun dari sudut pandang ilmiah, keyakinan akan penyebab suatu penyakit tidak masuk akal, namun pengobatan dan perawatan dari penyakit tersebut merupakan konsekuensi yang logis dari kepercayaan tersebut. Dalam pengobatan tradisional, seperti kerokan, logika pengobatan diyakini bersama antara penderita dan pemberi layanan karena mereka memiliki sudut pandang dan dasar nilai budaya yang sama.
Pengobatan tradisional Indonesia dipengaruhi oleh filosofi Cina sejak abad kelima. Pengobatan Cina meyakini bahwa keseimbangan antara panas (yang) dan dingin (yin) mempengaruhi keharmonisan hubungan antara kondisi spiritual dan fisik dari tubuh dengan alam.
Seseorang akan sakit bila tubuh tidak dalam keadaan yang harmonis dan seimbang. Logika inilah yang diyakini masyarakat Indonesia dalam melakukan kerokan. Kerokan diyakini sebagai praktik untuk mengeluarkan angin dingin penyebab penyakit dengan menggosok kulit di bagian yang terkena angin sampai bagian tersebut terasa panas. Tanda merah di kulit menjadi simbol hilangnya angin dari dalam tubuh.
Keluarnya keringat dan buang angin setelah kerokan juga diyakini menandakan hilangnya angin dingin dalam tubuh manusia. Dalam sudut pandang ilmiah ini irasional dan tidak masuk akal karena tidak mungkin angin bisa keluar masuk tubuh manusia melalui cara tersebut. Tetapi masyarakat mempunyai logika tersendiri dalam menyembuhkan suatu penyakit.
Pengobatan tradisional yang memiliki dampak psikososial dan psikoterapis membuat orang menjadi kecanduan akan kerokan. Kerokan memerlukan bantuan orang lain karena diaplikasikan di bagian belakang tubuh. Walaupun kerokan lebih mujarab bila dilakukan oleh tukang pijat yang berpengalaman, namun semua orang bisa melakukannya.
Seperti kebanyakan pengobatan tradisional lain, kerokan dipelajari secara turun temurun, biasanya oleh anggota keluarga perempuan, terutama ibu yang dianggap bertanggung jawab atas kesehatan keluarga.
Apalagi selama proses kerokan akan terjadi interaksi dan komunikasi yang memungkinkan penderita mengeluarkan uneg-uneg di luar keluhan akan penyakitnya, seperti persoalan keluarga, ekonomi, politik, gosip di tetangga, dan lain sebagainya. Efek psikoterapis inilah yang membuat orang ketagihan melakukan kerokan lagi dan lagi.
Oleh Johanna Debora Imelda, Associate Professor, Universitas Indonesia
Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.

The deadline for AIYA National Committee positions has been extended until 28 June 2019! Don’t miss out on the opportunity to join an inspiring group of young people committed to improving Aus-Indo relations.
More information in the ‘Opportunities’ section below.
Like what we do? Want to join or support your local chapter to contribute to our exciting activities? Sign up as an AIYA member today!
