Dari Layar ke Realita: Film, Cerita, dan Percakapan tentang Kekerasan Perempuan dan Anak di Nusa Tenggara Timur (NTT)
Ditulis oleh Jacqualine dan Rambu – AIYA NTT
Disunting oleh Rambu – AIYA NTT
Disunting kembali oleh Jyoti Putri – AIYA National Blog Editor
Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan bukan cerita baru. Di NTT, dalam tiga bulan pertama tahun 2026, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tercatat dan dilaporkan melalui situs SIMFONI sudah mencapai 7 kasus. Yang semakin menjadi keresahan adalah bahwa hal ini masih terlalu sering dianggap “biasa”, bahkan “tabu”, masih sering dibicarakan setengah hati, ditangani seadanya, atau bahkan diselesaikan diam-diam. Pada akhirnya, korban bukan hanya menanggung luka, tetapi juga tekanan sosial yang membuat mereka semakin sulit bersuara.
Dari kegelisahan itu, lahirlah Breaking the Silences: Open Conversations on Violence against Women and Girls in NTT. Kegiatan yang digelar pada 28 Maret 2026 di Hotel Sasando Kupang oleh AIYA NTT ini didukung oleh UN women Indonesia melalui peminjaman film dari UNiTe Film Fellowship Program 2025. AIYA NTT menginisiasi sebuah ruang diskusi untuk membicarakan hal-hal yang selama ini kerap dihindari. Kurang lebih 36 peserta dengan rentang usia 18-36 tahun dari berbagai komunitas hadir dalam kegiatan ini. Hadir pula para panelis dari berbagai latar belakang, yaitu Monica Bengu dari Tenggara Youth Community, Irwan Sebleku sebagai filmmaker Komunitas Film Kupang sekaligus Director Malam Sepanjang Nafas, serta Dwi Yuliawati sebagai UN Women Empowerment Head of Programmes.
Rangkaian acara ini dikemas dengan sederhana: dimulai dengan pemutaran film, presentasi utama dari perwakilan UN Women, dan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Namun, justru dari format yang sederhana itu, percakapan yang muncul terasa lebih jujur dan dekat. Film tidak lagi dilihat sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai cara untuk menghadirkan cerita yang sering tidak terdengar ke ruang publik. Banyak pertanyaan dan bahan refleksi hadir dalam sesi ini.
Salah satu poin yang paling kuat datang dari Dwi Yuliawati. Ia menekankan bahwa mengangkat isu kekerasan bukan hanya soal bercerita, tetapi juga soal tanggung jawab. Film harus dibuat dengan etika, tanpa mengeksploitasi korban atau menjadikan trauma sebagai dramatisasi. Cerita perlu kontekstual, adil, dan relevan, terutama bagi generasi muda. Dengan pendekatan seperti ini, film bisa menjadi alat untuk membangun kesadaran, bukan sekadar konsumsi.
Hal tersebut terefleksi dari dua film yang ditayangkan. Malam Sepanjang Nafas mengungkapkan bahwa kekerasan bisa terjadi di lingkaran terdekat, bahkan melibatkan pihak yang memiliki kuasa. Perempuan sebagai korban dipaksa diam dan dilarang berbicara tentang apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa budaya patriarki masih begitu kuat. Sementara itu, Fotome mengangkat kekerasan berbasis digital, mengingatkan bahwa ruang online pun kini tak luput menjadi tempat terjadinya pelecehan dengan dampak yang tidak kalah serius. Ruang aman bagi perempuan semakin hari semakin menipis, seolah tak ada lagi kesempatan untuk merasa benar-benar aman. Bentuk kekerasannya berbeda, tetapi keduanya menunjukkan pola yang sama: tidak adanya ruang aman, korban masih disalahkan, adanya relasi kuasa, tekanan sosial, serta tidak tersedianya tempat bagi korban untuk bercerita.
Diskusi panel kemudian dimulai dan semakin memperluas perspektif. Isu kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dengan sistem sosial yang lebih luas. Budaya menyalahkan korban, standar ganda, keraguan untuk sekadar berempati, norma yang membatasi, posisi perempuan dalam kehidupan sosial, serta akses terhadap informasi ternyata sangat memengaruhi penanganan kasus-kasus ini. Di sisi lain, implementasi hukum yang belum optimal dan terkadang menyimpang juga masih menjadi tantangan.

Tidak sedikit korban memilih diam karena takut, tidak dipercaya, atau justru disalahkan. Pada akhirnya, korban akan terus ada jika pola ini terus berulang. “Kita seakan menghadapi tembok yang keras,” kata Irwan Sebleku ketika ditanya mengapa hal ini masih terus berulang meski berbagai usaha sudah dilakukan. Oleh karena itu, perjuangan ini bukan usaha sekali jalan, melainkan usaha berkelanjutan yang harus terus diperjuangkan melalui berbagai media dan ruang, termasuk melalui film.
Kegiatan ini mungkin tidak menawarkan solusi instan, tetapi membuka ruang untuk mulai mengambil peran. Hal ini sejalan dengan visi AIYA yang ingin secara tegas dan nyata menyatakan dukungan terhadap kesetaraan perempuan dan hak-haknya. AIYA mengajak anak muda di NTT untuk ikut berpartisipasi dan bersama-sama menolak segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik di ruang publik maupun ruang digital. Anak muda dapat menjadi penggerak yang aktif dan menjadi bagian dari ruang aman itu, dimulai dari membangun kesadaran di lingkungan sekitar, berani membuka percakapan, hingga hadir untuk mendengar tanpa menghakimi.
Sejalan dengan semangat International Women’s Day 2026: Give To Gain, satu hal menjadi jelas: ketika perempuan dan anak perempuan merasa aman, mereka memiliki ruang untuk tumbuh dan menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, cukup dari satu kesadaran sederhana. Dari ruang diskusi kecil, kita meningkatkan kesadaran bahwa kekerasan bukan sesuatu yang wajar dan tidak boleh lagi dianggap biasa.
Happy International Women’s Day 2026!
AIYA NTT
