MEMBER SPOTLIGHT — WIRA MADJID
Welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to AIYA Jakarta Chapter Sports Officer, Wira Prabowo Madjid!
Welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to AIYA Jakarta Chapter Sports Officer, Wira Prabowo Madjid!
Welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to AIYA Tasmania President, Brolin!
ACT students at the AIYA ACT Indonesia day with Suara Indonesia.
Learning Indonesian in school was an opportunity that neither myself nor my family knew would open doors. I began my Indonesian studies with no knowledge of the country, not even where it was situated. But, I could see from my teachers that there was something special that I was engaging with. The stories I heard in the classroom captured my imagination and sense of adventure. I have never looked back, taking every opportunity that flew my way.
We wish you a Happy New Year and welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to our AIYA’s Web & IT Officer, Agus Supratman!
Welcome back to Member Spotlight where we introduce you to the personalities behind AIYA. This week, we introduce you to our AIYA’s Graphic Designer!
This article was originally published by The Conversation.
All hell broke loose during the Wentworth by-election when Prime Minister Scott Morrison suddenly announced that he was thinking of moving of Australia’s embassy in Israel from Tel Aviv to Jerusalem.
The main objections came, not on merits of the idea itself, but on whether it would upset Indonesia, the nation with whom Australia had just completed a landmark, but unsigned, free trade agreement and the nation with the world’s largest Muslim population.
The agreement is now unlikely to be signed for quite some time. In a face to face meeting with Indonesian President Joko Widodo last week that was intended to clear the way, Morrison was instead pressed about the Middle East.
But how important is the Indonesian trade relationship really? And would it be folly to sacrifice it on the altar of Middle East politics?
Australia and Indonesia have been entwined for a long time.
What is now Indonesia is almost certainly the Australian continent’s oldest trading partner.
Indigenous Australians fished and traded sea cucumber and other goods with their Makassan counterparts from at least the least the early 1700’s. Makassar is in the south-west corner of the Indonesian province of Sulawesi.
Australia provided critical support as what was then known as the Dutch East Indies fought for independence from the Dutch after the end of the second world war.
The Australian government provided medical supplies. Australian waterside workers refused to load Dutch ships.
These close ties continued 50 years later during the late 1990s Asian financial crisis when the Reserve Bank of Australia clashed with the International Monetary Fund and Clinton administration, who wanted to impose tough conditions on Indonesia in return for bailing it out.
Australia’s Treasurer Peter Costello took the advice of Reserve Bank Deputy Governor Stephen Grenville, who had been a diplomat in Jakarta, and stared down the IMF and the United States.
As a result the Indonesian economy fared much better, recovered more quickly and avoided much of damage endured by other developing economies that had done as the IMF wanted.
Two decades on, Indonesia is one of Australia’s top 15 trade partners, worth A$16.5 billion in two-way trade, and one of the biggest markets for Australian education.
In many ways, Indonesia is underdone as a partner for Australia.
It houses abound 262 million people but only around 250 Australian companies of any size, compared to more than 3,000 in China.
Among the companies that do have a big presence are the ANZ, Leightons, the Commonwealth Bank, Orica and Bluescope.
Its attractions are a massive and growing urban middle class and its need for infrastructure given the logistical challenges of connecting a huge population living across over 17,000 islands.
A free trade agreement is important to both sides, whatever political rhetoric President Widodo might need to employ to hold off his fundamentalist opponents.
Morrison told Widodo he would decide on the location of Australia’s Israel embassy by Christmas. The trade deal is likely to be signed soon after.
“Democracy for Prosperity: Youth Perspectives”
From 6 -7 December 2018, 137 students from various universities across 58 countries gathered in Nusa Dua, Bali, Indonesia to participate in the 2nd Bali Democracy Students Conference (BDSC II), held in parallel with the 11th Bali Democracy Forum (BDF). There were three delegates from Australia, ourselves and Tristan Croft.
We discussed issues and shared our views on the challenges of making democracy that delivers prosperity particularly with regard to pertinent issues such as education, politics, gender, technology, innovation, prosperity, and social media.
Tom Lembong mendiskusikan ekonomi Indonesia serta hubungan bilateral dengan Australia
Bertepatan dengan Konferensi Australia Indonesia Business Council (AIBC) 2018 di Gold Coast awal bulan lalu, AIYA berkesempatan mewawancarai Kepala BKPM, Bapak Thomas Lembong yang hadir mewakili pemerintah Indonesia. Turut menjadi salah satu pembicara utama di konferensi, mantan Menteri Perdagangan itu berbagi pandangan mengenai visi Indonesia menuju kemakmuran di tengah perubahan ekonomi dan tren global.
Konferensi Australia Indonesia Business Council (AIBC) 2018 yang berlangsung pada tanggal 11 hingga 13 November 2018 diselenggarakan di Gold Coast, Queensland. Dengan mengangkat tema ‘Partnering for Prosperity in a World of Change’ (Bermitra untuk Kemakmuran di Tengah Perubahan Dunia), konferensi ini menekankan pentingnya memperkuat hubungan kedua negara dan mengatasi tantangan-tantangan dalam rangka mencapai kemakmuran bersama.
AIBC Chapters Presidents beserta Duta Besar Indonesia untuk Australia, Bapak Kristiarto Legowo dan Konsulat Jeneral Bapak Heru Subolo.
photo credit: PPIA Macquarie
Sebagai salah satu destinasi terpopuler bagi para pelajar Indonesia, Australia merupakan rumah kedua oleh satu dari empat pelajar yang belajar di luar negeri. Berimbang dengan statistik itu sendiri, hal ini memungkinkan untuk para pelajar Indonesia yang tergabung dalam PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia) untuk memiliki komunitas yang solid. Telah menjadi tradisi bagi PPIA yang tersebar di berbagai pelosok Australia untuk mengadakan acara tahunan sebagai ajang untuk mempromosikan budaya, seni, bahasa, serta untuk menyatukan warga Indonesia yang rindu akan negara kelahiran mereka.
Para mahasiswa dari Universitas Macquarie dengan bangga mempersembahkan salah satu acara terbesar PPIA yang dinamai Soundquriang, The V Act (Soundquriang, Babak kelima). Acara yang diselenggarakan di City Recital Hall Sydney ini dimeriahkan oleh salah satu band tebesar Indonesia Sheila On 7, vokal grup populer HIVI!, serta dimeriahkan oleh The East and Friends, pemecah rekor MURI Michael Anthony dan pagelaran budaya Indonesia, Tari Kecak.
Sengaja datang awal, Blog Editor AIYA, mengikuti kegiatan tim PPIA Macquarie bersiap serta untuk mengenal lebih dalam otak kreatif di balik mereka yang mempersiapkan malam yang megah tersebut.
Pengarahan tim sebelum acara dimulai
Sementara penyelenggara tengah bersibuk mempersiapkan Sounquriang, dengan tipikal kehebohan dari penampilan langsung, para penonton mulai berdatangan sejak jam 4 sore meski acara baru akan dimulai pada pukul 6 malam. Jam 4.45 saat pintu utama dibuka untuk pengambilan dan pembelian tiket, para komite yang terdiri dari 30 mahasiswa tersebut berpencar menjalankan tugas mereka masing-masing baik membantu para penonton, mempersiapkan panggung, hingga menjual cenderamata.
Soundquriang the V Act merupakan acara terbesar yang pernah PPIA Macquarie adakan dengan 1.200 tiket terjual, 100% keuntungan yang didapat akan disumbangkan kepada Rumah Faye, rumah singgah untuk korban perdagangan anak yang berpusat di Jakarta. Diakui oleh Joshua sebagai Komite Marketing, peningkatan dari Soundquriang sejak tahun ke tahun tidak lah terjadi dalam seketika. Dibutuhkan 6 bulan untuk tim PPIA Macquarie untuk mempersiapkan Soundquriang di tahun yang kelima ini. Baginya pembelajaran terbesar dalam berorganisasi adalah diasahnya kemampuan kepemimpinan mereka. Baginya dan tim, tantangan terbesar yang mereka temui adalah untuk dapat melakukan segalanya bersamaan dengan tugas kuliah yang mereka emban.
Meski dengan memiliki 30 orang di dalam tim, Joshua mengaku terkadang merasa kewalahan dengan tugas dan tanggung jawab yang ada seperti proses melobi dan mengambil keputusan. Dia juga mengajak para pelajar Indonesia lainnya untuk ikut serta menyumbang tenaga dan ide kreatif dengan bergabung dalam tim di tahun mendatang. Saat menjawab apa yang akan dipersembahkan tim PPIA Macquarie tahun depan, Joshua menjawab sembari bercanda,“kami belum tahu tepatnya namun saya ingin semua ini berakhir dulu,” menjelaskan seberapa banyak kerja keras yang telah ditaruh untuk merealisasikan acara ini. “Kami harap semuanya berjalan dengan lancar dan semua dapat menikmati acaranya, untuk sekarang itu saja harapan saya.” Sambungnya dengan penuh harap dan percaya diri.
Pengambilan dan pembelian tiket yang dilakukan diadakan di City Recital Hall Sydney
Acara dimulai dengan kata pengantar dan ucapan terima kasih oleh Fionita dan Richard, masing-masing sebagai Project Manager dan Venue Coordinator. The East and Friends membuka babak pertama dengan membawakan lagu-lagu nasional seperti Indonesia Pusaka, Dari Sabang Sampai Merauke, hingga lagu-lagu daerah seperti Sinagar Tulo and Kincir-Kincir.
The East and Friends membuka babak pertama ditemani penari-penari adat Indonesia
Soundquriang the V Act dihadiri oleh Bapak Heru Subolo selaku Komjen RI untuk NSW, Bapak Heru menggunakan kesempatan ini untuk menghimbau para masyarakat yang hadir untuk mendaftarkan diri untuk pemilihan umum presiden yang diselenggarakan pada pertengahan April mendatang. Beliau juga menekankan betapa pentingnya peran warga negara Indonesia untuk menjadi stakeholder dalam memperkenalkan budaya, seni, dan lagu Indonesia di luar negeri dalam mewujudkan ‘The Modern Indonesia’.
Pak Heru memberikan satu dua patah kata bersama dengan pembawa acara, Darian
Michael Anthony Kwok dengan bakatnya membuka babak kedua, Michael yang mencuri perhatian para hadirin dengan permainan pianonya memainkan lagu-lagu nasional Indonesia hinnga ke lagu tema Asian Games, Meraih Bintang (Yo Ayo). Michael juga pemecah rekor MURI sebagai pianis tuna netra-autistik termuda Indonesia. Remaja 15 tahun ini belajar musik (piano) secara otodidak dengan mendengar sejak umur 3 tahun. Bakatnya diketahui secara tidak sengaja saat keluarga Kwok menyadari Michael memainkan lagu iklan yang baru didengarnya dan sejak saat itu Michael telah menguasai ratusan lagu lainnya. Tak hanya telah bermain di Belanda, Michael juga telah mengadakan pertunjukan solonya di Sydney Opera House.
Michael Kwok, jenius yang memukau para hadirin dengan musiknya
Seiring berjalan dengan malam, salah satu dari bintang utama, HIVI! membawakan babak ketiga dengan lagu-lagu hits mereka seperti Remaja, Pelangi, Kereta Kencan dan membawa antusiasme penonton. HIVI! melalui lagu-lagu cinta mereka membawa kehangatan serta romantisme ke dalam recital hall, mengajak para fans untuk ikut bernyanyi dan menari. HIVI! menggunakan kesempatan pertama mereka di panggung Sydney untuk berterima kasih kepada hadirin yang memungkinkan mereka untuk tampil di Australia serta harapan mereka untuk menghibur para hadirin kembali di masa depan melalui karya-karya mereka.
Kekompakan HIVI! di atas panggung
Sebelum melangkah ke puncak acara, babak keempat merupakan pemanasan dari inti malam yang paling ditunggu-tunggu. Menampilkan kontemporari interpretasi dari Tari Kecak yang dibawakan oleh para pelajar untuk yang pertama kali dengan bantuan dari komunitas Tari Kecak di Sydney.
Penampilan para pelajar Indonesia dalam mempromosikan budaya Indonesia melalui Tari Kecak
Duta dan band mengguncang panggung Soundquriang dengan hits mereka
Meski mengalami sedikit kendala teknis, sisa dari malam berjalan dengan baik dengan pembawa acara Darian yang menggunakan kesempatan itu untuk berinteraksi dengan para penonton. Eksistensi Sheila On 7 selama 22 tahun di industri musik Indonesia dibuktikan dengan kehebohan yang terjadi saat Duta dan teman-teman tampil di atas panggung. Penampilan yang terasa seperti konser solo itu membawa para penonton turun dari duduk mereka dan bernyanyi mengiringi Sheila di panggung. Duta mengekspresikan rasa terima kasihnya diberikan kesempatan perdana mereka menghibur penonton di Australia. Dan malam yang akrab itu pun ditutup dengan sebuah lagu encore.
The night through a lense, photo credit: Disty
Terima kasih untuk keramahan dan bantuan dari teman-teman PPIA Macquarie kepada AIYA.
Jika ada teman-teman yang mengadakan acara yang berhubungan dengan Australia-Indonesia dan ingin acara tersebut diliput oleh kami, silahkan kirim kan kami email di [email protected]
