Dipisahkan Lautan, Disatukan Kelapa: Kisah di Balik Lamington dan Klepon
Sekilas, lamington dan klepon mudah disangka sebagai hidangan penutup dari tradisi kuliner yang sama. Keduanya berukuran kecil, manis, dan dilapisi dengan kelapa parut yang melimpah. Namun, yang satu adalah kue khas Australia yang sangat digemari, sementara yang lainnya adalah kue tradisional Indonesia yang dapat ditemukan di pasar dan di rumah-rumah di seluruh kepulauan. Kemiripan visual keduanya sangat mencolok, terutama jika mempertimbangkan jarak geografis dan perbedaan budaya yang begitu luas antara kedua negara. Kemiripan ini tidak hanya menawarkan sekadar perbandingan makanan yang
menarik. Hal ini membuka jendela kecil, tetapi bermakna tentang bagaimana bahan dan lingkungan yang serupa dapat membentuk budaya kuliner yang mirip, secara diam-diam mencerminkan hubungan yang lebih luas antara Australia dan Indonesia.
Lamington secara luas dianggap sebagai salah satu kue khas Australia. Berasal dari Queensland, kue ini terdiri dari potongan kue bolu yang dicelupkan ke dalam lapisan cokelat dan digulingkan dalam kelapa parut kering. Beberapa variasi menambahkan lapisan selai atau krim, tetapi ciri khasnya tetaplah lapisan kelapa di bagian luarnya. Dalam hidangan penutup ini, kelapa bukanlah rasa utama, melainkan sentuhan praktis dan tekstural. Kelapa mencegah lapisan cokelat menjadi terlalu lengket, menambahkan tekstur renyah saat digigit, serta memberikan tampilan yang khas pada kue. Lamington menunjukkan bagaimana tradisi pembuatan kue ala Eropa beradaptasi dengan kondisi lokal dengan memanfaatkan bahan-
bahan yang melimpah di wilayah tropis dan subtropis Australia.

Sebaliknya, klepon merupakan bagian dari tradisi kue Indonesia yang sudah lama ada. Kue ini dibuat dari adonan tepung beras ketan yang diisi dengan gula merah cair, direbus, lalu digulingkan dalam kelapa parut segar. Saat dimakan, bagian luarnya yang kenyal akan pecah dan mengeluarkan lelehan manis di dalamnya. Dalam klepon, kelapa merupakan elemen penting, bukan sekadar hiasan. Kelapa menyeimbangkan rasa manis isian, menambah tekstur, serta mencegah permukaan yang lengket saling menempel. Kelapa sangat melekat dalam masakan Indonesia, menjadikan klepon sebagai ekspresi alami dari bahan-bahan lokal dan kebiasaan kuliner setempat.
Kemiripan antara lamington dan klepon bukanlah hasil pengaruh langsung, melainkan logika kuliner yang praktis. Kelapa memiliki fungsi serupa pada kedua hidangan ini: mengurangi kelengketan, memperbaiki tekstur, membantu mempertahankan kelembapan, dan memudahkan saat disajikan atau dipegang. Keduanya juga merupakan kudapan yang sering disajikan di pertemuan, perayaan, atau sebagai kudapan sehari-hari. Keduanya membangkitkan rasa akrab dan nostalgia, umumnya dapat ditemukan di toko roti, pasar, maupun dapur rumah. Terlepas dari bahan-bahannya yang berbeda, lapisan kelapa yang sama
membuat keduanya tampak hampir seperti kembar. Faktor geografis dan sejarah membantu menjelaskan kesamaan yang tidak disengaja ini. Lamington berkembang di dapur kolonial Australia yang dipengaruhi teknik pembuatan kue Eropa, sementara klepon lahir dari tradisi kuliner berbasis beras di Asia Tenggara.
Seiring waktu, jalur perdagangan dan jaringan kolonial memfasilitasi pergerakan bahan-bahan seperti gula dan kelapa antarwilayah. Namun, setiap budaya mengolah bahan tersebut sesuai dengan kerangka kuliner masing-masing. Hasilnya adalah dua hidangan penutup yang berbeda, mencerminkan sejarah yang berlainan, tetapi sama-sama merespons kondisi lingkungan dan ketersediaan bahan yang serupa.
Dalam makna yang lebih luas, kemiripan visual antara lamington dan klepon berfungsi sebagai pengingat akan benang merah lingkungan dan budaya yang menghubungkan Australia dan Indonesia. Meskipun tradisi kuliner keduanya tetap berbeda, bahan-bahan umum seperti kelapa menunjukkan bagaimana geografi dapat membentuk kreativitas kuliner dengan cara yang sama. Melalui dua makanan penutup ini, kita melihat bagaimana dapur yang berbeda, dipandu oleh sejarah yang berbeda, dapat menghasilkan ekspresi rasa manis yang sangat mirip.
Ditulis oleh Benetta Swasti
Diterjemahkan oleh Ezy Wiranda





